Rem Sosial: Teori G.H. Mead
Suara Hati vs Suara Publik
Menurut G.H. Mead, kontrol diri manusia bukanlah insting bawaan lahir, melainkan aturan masyarakat luar yang diserap ke dalam diri.
Banyak orang mengira bahwa "rem" di dalam diri yang menahan kita saat hendak berbuat salah adalah suara hati nurani murni yang dibawa sejak lahir. Secara intuitif, kita merasa rem itu sepenuhnya berasal dari dalam diri kita sendiri. Namun, sosiolog George Herbert Mead memandang hal tersebut dari arah sebaliknya: proses kontrol diri justru bermula dari luar, yaitu dari hubungan dan interaksi kita dengan orang-orang di sekitar.

Mekanisme penyerapan ini disebut sebagai internalisasi. Melalui proses ini, kita terus-menerus menyerap aturan, norma, dan reaksi orang lain terhadap tindakan kita sampai akhirnya aturan luar tersebut menyatu dan menjadi suara peringatan di dalam pikiran kita sendiri.
Budi percaya bahwa adiknya yang baru lahir sudah memiliki kontrol diri secara alami berkat suara hatinya. Berdasarkan pandangan G.H. Mead, tentukan kebenaran dari pernyataan berikut!
- Kontrol diri terbentuk secara alami sejak manusia dilahirkan sebagai insting biologis. — Salah
- Kontrol diri terbentuk karena manusia menyerap pandangan masyarakat di sekitarnya. — Benar
Menurut pandangan George Herbert Mead, kontrol diri bukanlah insting biologis yang dibawa sejak lahir, melainkan hasil internalisasi di mana seseorang menyerap nilai, norma, dan pandangan masyarakat di sekitarnya melalui interaksi sosial.
Kontrol diri menurut sosiologi terbentuk melalui internalisasi interaksi sosial, bukan bawaan lahir.
Si Spontan dan Si Rem
Diri manusia terbagi menjadi "I" yang memunculkan hasrat impulsif dan "Me" yang bertindak sebagai rem berdasarkan norma sosial.
Setelah aturan sosial mengalami internalisasi, aturan tersebut tidak berhenti sebagai hafalan pasif. George Herbert Mead menjelaskan bahwa diri (self) kita memiliki dua sisi yang terus-menerus berdialog sebelum kita bertindak:
"I" (Aku): Bagian diri yang spontan, kreatif, impulsif, dan bertindak bebas tanpa memikirkan akibat.
"Me" (Daku): Bagian diri sosial yang memuat kumpulan norma dan ekspektasi masyarakat yang telah kita serap.

Kontrol diri tercipta dari dialog aktif ini: dorongan spontan dari "I" disaring dan diarahkan oleh "Me" agar tindakan kita dapat diterima oleh lingkungan sekitar. Inilah alasan mengapa Opsi A pada soal keliru. Kontrol diri bukanlah proses menekan semua hasrat spontan secara membabi buta demi pencitraan atau gengsi semata, melainkan dialog evaluasi di mana "Me" membimbing dan mengarahkan dorongan "I" agar selaras dengan norma bersama.
Rina sangat marah dan ingin membanting buku temannya yang menghilangkan catatannya. Namun, ia mengurungkan niat itu karena sadar hal tersebut melanggar tata tertib sekolah dan norma kesopanan. Dalam kasus ini, bagaimana peran 'Me' menurut teori G.H. Mead?
- Sepenuhnya menekan rasa marah Rina demi menjaga citra baik sebagai siswi.
- Memunculkan dorongan biologis spontan untuk segera membanting buku temannya.
- Mengevaluasi dorongan amarah Rina agar tindakannya selaras dengan norma sekolah.
- Menghitung untung-rugi secara matematis apakah membanting buku akan dihukum guru.
Jawaban: Mengevaluasi dorongan amarah Rina agar tindakannya selaras dengan norma sekolah.
Peran 'Me' menurut G.H. Mead adalah mengevaluasi serta mengarahkan dorongan spontan dari 'I' (dalam kasus ini amarah Rina) berdasarkan norma sosial yang sudah diinternalisasi. 'Me' bukan sekadar menekan demi gengsi (A), bukan pembuat dorongan spontan (B yang merupakan tugas 'I'), dan bukan pula kalkulasi untung-rugi rasional (D).
Fungsi 'Me' adalah mengarahkan impuls dari 'I' berdasarkan norma sosial hasil internalisasi.
Acuan Bernama Generalized Other
Bentuk matang dari kontrol diri tercapai ketika acuan "Me" adalah pandangan dari masyarakat luas yang disebut Generalized Other.
Ketika aspek "Me" mengevaluasi dorongan spontan dari "I", dari mana standar penilaian itu berasal? Pada awalnya, seorang anak belajar menaati aturan karena menuruti sosok tertentu yang sangat dekat dengannya, seperti orang tua atau keluarga inti. Namun, seiring kedewasaan sosialnya, acuan perilaku seseorang meluas melampaui orang-orang terdekat. Mead menyebut acuan masyarakat luas yang terorganisasi ini sebagai Generalized Other (pihak lain yang diuniversalkan).
Inilah inti dari jawaban yang benar pada soal, yaitu Opsi B: kontrol diri merupakan hasil internalisasi pandangan dan ekspektasi dari Generalized Other yang menjadi pedoman utama bagi perilaku seseorang. Kita tidak lagi membutuhkan orang tua atau sahabat berdiri di samping kita untuk mengingatkan aturan. Norma sosial masyarakat umum telah kita jadikan standar internal.
Andi patuh pada aturan lalu lintas dan berhenti saat lampu merah, meskipun jalanan sangat sepi dan tidak ada anggota keluarga yang mengawasinya. Mengapa tindakan Andi mencerminkan internalisasi 'Generalized Other' dan bukan sekadar pengaruh kelompok primer?
- Karena Andi menjadikan hukum masyarakat secara umum sebagai acuan, bukan sekadar harapan keluarganya.
- Karena Andi membayangkan teguran keras dari ibunya jika ia tertangkap melanggar rambu jalan raya.
- Karena Andi memiliki naluri biologis sejak lahir yang membuatnya takut melanggar lampu merah.
- Karena Andi menghitung bahwa melanggar lampu merah hanya akan menimbulkan kerugian finansial baginya.
Jawaban: Karena Andi menjadikan hukum masyarakat secara umum sebagai acuan, bukan sekadar harapan keluarganya.
Tindakan Andi mencerminkan 'Generalized Other' karena ia menginternalisasi hukum dan ekspektasi masyarakat luas secara umum sebagai acuan moral dirinya, bukan semata-mata takut pada sanksi figur kelompok primer seperti ibu (opsi B), bukan naluri biologis bawaan (opsi C), dan bukan pula sekadar hitung-hitungan laba-rugi finansial (opsi D).
Generalized Other mencakup nilai dan norma masyarakat secara luas, bukan sekadar nilai dari keluarga atau kelompok primer.