Termodinamika Gas: Di Balik Rumus Ekspansi

Siapa yang Melawan Siapa?

Kerja gas ($w$) dihitung berdasarkan tekanan luar karena itulah 'beban' sesungguhnya yang harus dilawan saat ekspansi.

Bayangkan wadah tertutup rapat oleh piston mekanik transparan yang bisa bergerak naik-turun bebas tanpa gesekan. Di dalam wadah tersebut ada partikel gas oksigen yang sedang kita amati (sistem), sedangkan di luar silinder ada udara bebas di sekitarnya (lingkungan). Partikel gas di dalam wadah bergerak memantul tak henti dan menghasilkan tekanan ke atas sebesar $4\text{ atm}$, sementara udara luar menekan ke bawah di atas tutup piston sebesar $1\text{ atm}$.

Karena tekanan dari dalam lebih kuat daripada tekanan di luar ($4\text{ atm} > 1\text{ atm}$), partikel gas mendesak piston bergerak ke atas (terjadi ekspansi volume). Namun, seberapa berat rintangan yang sesungguhnya ditaklukkan oleh gas tersebut? Beban yang ditahan dan digeser oleh piston hanyalah tekanan udara luar sebesar $1\text{ atm}$.

Itulah alasan mendasar mengapa dalam termokimia, rumus kerja mekanik pemuaian selalu mengalikan perubahan volume dengan tekanan dari lingkungan ($P_{\text{luar}}$), bukan tekanan internal gas:

$$w = -P_{\text{luar}} \Delta V$$

Sebuah gas memiliki tekanan awal $5\text{ atm}$ dan berekspansi melawan vakum ($P_{\text{luar}} = 0\text{ atm}$). Berapa tekanan yang harus dimasukkan ke dalam perhitungan kerja $w$?

  • 0 atm, karena tidak ada hambatan udara luar yang harus dilawan saat gas berekspansi.
  • 1 atm, karena tekanan udara di lingkungan selalu bernilai standar pada setiap keadaan.
  • 2,5 atm, karena nilai tekanan kerja merupakan rata-rata antara tekanan awal dan akhir.
  • 5 atm, karena tekanan gas dari dalam sistem yang mendorong pemuaian sebesar nilai tersebut.

Jawaban: 0 atm, karena tidak ada hambatan udara luar yang harus dilawan saat gas berekspansi.

Kerja ekspansi mekanik ($w = -P_{\text{luar}} \Delta V$) dihitung berdasarkan hambatan atau tekanan dari lingkungan luar yang harus didorong oleh gas. Pada ruangan vakum (hampa udara), $P_{\text{luar}} = 0\text{ atm}$, sehingga gas memuai tanpa harus mendorong beban apa pun (free expansion) dan kerja mekaniknya bernilai nol.

Kerja yang dilakukan gas bergantung pada tekanan eksternal, bukan tekanan internal gas itu sendiri.

Konvensi Tanda Energi

Dalam kesepakatan IUPAC (kimia), energi punya tanda minus jika ia keluar meninggalkan sistem.

Dalam termodinamika kimia, kita selalu menempatkan diri dari sudut pandang 'dompet energi' milik sistem. Ketika sistem melakukan dorongan mekanik untuk menggeser piston ke atas melawan rintangan lingkungan, sistem tersebut mengorbankan sebagian energinya. Karena energi tersebut mengalir keluar dari sistem menuju lingkungan, nilai transfer energinya diberi tanda negatif.

Ilustrasi energi yang meluncur keluar dari silinder piston menuju lingkungan saat gas memuai.

Saat gas oksigen di dalam piston memuai dari volume awal sekitar $9\text{ L}$ ($9{,}00975\text{ L}$) menjadi volume akhir sebesar $20\text{ L}$, perubahan volumenya bernilai positif ($\Delta V \approx +11\text{ L}$, tepatnya $10{,}99025\text{ L}$). Karena gas mendorong beban luar, proses ini membuang energi kerja ke lingkungan sekitar. Formula $w = -P_{\text{luar}} \Delta V$ dirancang agar setiap kali terjadi ekspansi ($\Delta V$ bernilai positif), nilai kerja ($w$) secara otomatis bertanda negatif, yaitu sekitar $-1.113{,}56\text{ J}$.

Misteri Kalor Positif

Hukum Pertama Termodinamika menjaga keseimbangan energi: perubahan total ($\Delta E$) adalah gabungan dari kalor dan kerja.

Total energi kinetik dan potensial yang tersimpan di dalam partikel sistem disebut energi dalam ($\Delta E$). Tabungan energi ini hanya bisa bertambah atau berkurang lewat dua jalur: pertukaran panas (kalor, $q$) dan dorongan mekanik volume (kerja, $w$). Hubungan kekal ini dirumuskan sebagai:

$$\Delta E = q + w$$

Diagram batang neraca energi Hukum Pertama Termodinamika menunjukkan kerja keluar, kalor masuk, dan perubahan energi dalam netto.

Pada soal, energi dalam gas turun sebesar $100\text{ kal}$, yang setara dengan $-418{,}4\text{ J}$ ($\Delta E = -418{,}4\text{ J}$). Di sisi lain, kita sudah mengetahui bahwa gas menghabiskan energi kerja yang sangat besar ke lingkungan, yaitu $-1.113{,}56\text{ J}$.

Mari kita gunakan logika saldo: jika sistem mengeluarkan energi kerja sebesar $1.113{,}56\text{ J}$, tetapi saldo tabungan energinya hanya berkurang $418{,}4\text{ J}$, dari mana datangnya kekurangan energi tersebut? Pastilah ada pasokan energi tambahan yang masuk dari luar lewat bentuk kalor!

$$q = \Delta E - w = -418{,}4 - (-1.113{,}56) = +695{,}16\text{ J}$$

Tanda positif pada kalor mengonfirmasi bahwa sistem justru menyerap panas dari lingkungan sekitar.

Analisis Pilihan Jawaban

Gas di dalam wadah dimampatkan (ditekan) oleh lingkungan sehingga ia menerima kerja sebesar $+200\text{ J}$. Selama proses tersebut, energi dalamnya dibiarkan tetap ($\Delta E = 0$). Apa yang terjadi pada kalor sistem?

  • Sistem melepaskan kalor sebesar 200 J (q = -200 J) ke lingkungan sekitar.
  • Sistem menyerap kalor sebesar 200 J (q = +200 J) dari lingkungan sekitar.
  • Kalor bernilai 0 J karena energi dalam gas dijaga agar tetap tidak berubah.
  • Sistem melepaskan kalor sebesar 400 J (q = -400 J) ke lingkungan sekitar.

Jawaban: Sistem melepaskan kalor sebesar 200 J (q = -200 J) ke lingkungan sekitar.

Berdasarkan Hukum Pertama Termodinamika, $\Delta E = q + w$. Jika energi dalam gas tetap ($\Delta E = 0$) dan sistem menerima kerja pemampatan sebesar $+200\text{ J}$ ($w = +200\text{ J}$), maka persamaannya menjadi $0 = q + 200$, sehingga $q = -200\text{ J}$. Tanda negatif menunjukkan bahwa sistem harus melepaskan kalor sebesar $200\text{ J}$ ke lingkungan agar saldo energinya tetap seimbang.

Hukum Pertama Termodinamika: Menentukan tanda dan nilai kalor jika perubahan energi dalam dan kerja diketahui arah alirannya.