Bunga Majemuk vs Sederhana

Bunga Biasa vs Bunga Berbunga

Pernah nggak kamu bingung apa bedanya Bunga Sederhana (Simple Interest) dan Bunga Majemuk (Compound Interest)? Intinya ada pada dari mana bunga tahun berikutnya dihitung.

Bayangkan kamu menanam pohon mangga ajaib.

ilustrasi

Perbedaan mendasar inilah yang bikin cara ngitung saldo di Tahun ke-2 dan seterusnya jadi berbeda total. Di tahun pertama, keduanya mungkin terlihat sama. Tapi begitu masuk tahun kedua, mesin waktu Bunga Majemuk mulai bekerja!

Bank A: Konsisten Tiap Tahun

Mari kita bedah Bank A yang menawarkan Bunga Sederhana 10% untuk modal awal $Rp~1.000.000$.

Karena ini bunga sederhana, basis perhitungan bunga tidak pernah berubah. Bunganya akan selalu dikalikan dengan uang yang kamu setor di hari pertama.

  1. Tahun 1: Kamu dapat bunga $10 \times 1.000.000 = Rp100.000$. Saldo akhirmu jadi $Rp1.100.000$.

  2. Tahun 2: Ini kuncinya! Bunga tahun kedua tetap dihitung dari $Rp1.000.000$ awal, bukan dari saldo $Rp1.100.000$. Jadi bunganya lagi-lagi $Rp~100.000$.

  3. Total Akhir: Saldo akhir Tahun 2 = $1.100.000 + 100.000 = Rp~1.200.000$.

Dari breakdown di atas, jelas terlihat bahwa uang di Bank A pada akhir tahun ke-2 adalah $Rp~1.200.000$. Oleh karena itu, Pernyataan I bernilai BENAR.

Jika kamu melanjutkan investasi di Bank A hingga Tahun ke-3, dari mana bunga Tahun ke-3 dihitung?

  • A. 10% x Rp 1.100.000
  • B. 10% x Rp 1.200.000
  • C. 10% x Rp 1.000.000
  • D. 10% x Rp 1.300.000

Jawaban: C. 10% x Rp 1.000.000

Pada bunga sederhana, basis pengali bunga selalu sama dengan modal awal (Rp 1.000.000), berapapun tahun yang sedang dihitung.

Bunga sederhana selalu dihitung dari modal awal, berapapun tahunnya.

Bank B: Bunga yang Ikut Berbunga

Sekarang kita lihat Bank B yang memakai Bunga Majemuk 9%. Walau persentasenya lebih kecil ($9$ vs $10$), cara kerjanya berbeda.

Di bunga majemuk, bunga tahun berikutnya dihitung dari saldo terakhir (modal + bunga sebelumnya), bukan dari modal awal.

  1. Tahun 1: Kamu dapat bunga $9 \times 1.000.000 = Rp90.000$. Saldo akhirmu jadi $Rp1.090.000$.

  2. Tahun 2: Nah, di sini "magic" nya terjadi. Bunga tahun kedua dihitung dari saldo barumu, yaitu $Rp1.090.000$ (bukan satu juta lagi). Bunga = $9 \times 1.090.000 = Rp98.100$. (Perhatikan, bunga ini lebih besar dari bunga tahun pertama!)

  3. Total Akhir: Saldo akhir Tahun 2 = $1.090.000 + 98.100 = Rp~1.188.100$.

Angka akhirnya tepat $Rp~1.188.100$. Ini membuktikan bahwa Pernyataan II bernilai BENAR.

Kenapa nominal bunga yang didapat di Bank B pada Tahun ke-2 (Rp 98.100) lebih besar daripada Tahun ke-1 (Rp 90.000)?

  • A. Karena ada biaya admin bank.
  • B. Karena bunga tahun ke-2 dihitung dari Rp 1.090.000, bukan Rp 1.000.000.
  • C. Karena persentase bunganya naik di tahun kedua.
  • D. Karena rumus majemuk memang selalu menambahkan Rp 8.100 tiap tahun.

Jawaban: B. Karena bunga tahun ke-2 dihitung dari Rp 1.090.000, bukan Rp 1.000.000.

Sifat utama bunga majemuk: bunga yang sudah didapat di tahun pertama (Rp 90.000) ikut berbunga di tahun kedua. Itulah kenapa bunganya naik dari Rp 90.000 jadi Rp 98.100.

Bunga majemuk dihitung dari saldo akhir tahun sebelumnya, bukan modal awal.