Anatomi Kota Gurita: Saat Jalan Membentuk Ruang

Akar yang Menjalar

Pernahkah kamu membayangkan kenapa kota-kota besar di dunia nyata jarang sekali yang bentuknya bulat sempurna mirip koin?

Secara teoritis murni, seandainya sebuah kota dibangun di atas daratan yang rata sempurna dan biaya perjalanan ke semua arah sama murahnya, orang-orang akan membangun rumah menyebar rata. Hasilnya: kota berbentuk lingkaran konsentris. Namun, teori ini runtuh ketika dihadapkan pada dunia nyata.

ilustrasi

Di dunia nyata, pergerakan kita sangat dibatasi oleh ketersediaan jalur transportasi. Jalan raya besar, jalan tol, atau jalur kereta beroperasi seperti 'jalan pintas' yang membuat akses keluar-masuk kota menjadi lebih cepat dan hemat biaya.

Karena penduduk dan pebisnis selalu mencari efisiensi, mereka memilih untuk menetap dan membangun di sepanjang tepi jalur transportasi tersebut. Bukannya melebar secara merata, kota justru "menjalar" keluar mengikuti jalan-jalan utama.

Secara teori, jika daratan datar sempurna tanpa jalan, kota akan tumbuh berbentuk lingkaran. Namun nyatanya, kota tumbuh menjalar seperti akar pohon. Alasan utama fenomena ini adalah...

  • A. Penduduk kota selalu ingin menjauhi pusat keramaian.
  • B. Biaya transportasi sama saja ke arah mana pun.
  • C. Jalur transportasi utama memberikan akses perjalanan yang lebih cepat dan murah.
  • D. Pemerintah melarang pembangunan dalam bentuk melingkar.

Jawaban: C. Jalur transportasi utama memberikan akses perjalanan yang lebih cepat dan murah.

Di dunia nyata, biaya dan waktu perjalanan tidak merata. Jalan tol atau rel kereta membuat akses jadi lebih cepat dan murah, sehingga orang dan bisnis memilih membangun di sepanjang jalur tersebut.

Pola perkembangan kota dipengaruhi oleh kemudahan akses (aksesibilitas) di sepanjang jalur transportasi utama, bukan menyebar merata ke segala arah.

Rantai vs Tentakel

Saat membahas kota yang tidak bulat, kita sering menjumpai istilah-istilah unik seperti kota "Berantai" (Chained City) dan kota "Gurita" (Octopus Shaped City). Karena kamu sempat memilih opsi "Berantai" di soal sebelumnya, mari kita bedah bedanya agar tidak tertukar!

Keduanya memang sama-sama tidak bulat dan punya bentuk memanjang, tapi pola terbentuknya sangat berbeda secara geometris.

Pola Berantai (Chained) terjadi ketika sebuah kota tumbuh mengikuti satu jalur utama yang sangat panjang (misalnya garis pantai, sungai besar, atau satu jalan raya lintas kota). Titik A nyambung ke titik B, lalu ke titik C secara berurutan dan linear. Seperti rantai yang saling mengikat di satu garis lurus.

Sebaliknya, Pola Gurita (Octopus) atau radial tidak linear. Pola ini berawal dari satu pusat kota (CBD) di mana banyak jalan raya memancar secara mandiri ke berbagai arah yang berbeda (Jalan A, Jalan B, Jalan C). Bangunan-bangunan menempel di masing-masing jalan tersebut, membentuk lengan-lengan yang keluar dari pusat.

ilustrasi

Dari pernyataan berikut, manakah yang TEPAT membedakan pola kota 'berantai' dan pola 'gurita'? (Pilih semua yang benar)

  • Pola berantai terbentuk ketika permukiman berkembang mengikuti satu jalur memanjang, seperti sungai atau satu jalan raya utama.
  • Pola gurita dan pola berantai sama-sama berawal dari satu pusat yang menyebar ke berbagai arah.
  • Pada pola gurita, garis-garis jalan utama memancar dari pusat kota ke arah luar secara mandiri.
  • Kedua pola ini merupakan contoh dari teori inti ganda (multiple nuclei).

Jawaban: Pola berantai terbentuk ketika permukiman berkembang mengikuti satu jalur memanjang, seperti sungai atau satu jalan raya utama.; Pada pola gurita, garis-garis jalan utama memancar dari pusat kota ke arah luar secara mandiri.

Pola berantai (chained) tersusun mengikuti satu sumbu memanjang secara urut. Sedangkan pola gurita memancar dari satu pusat (CBD) lewat banyak jalan yang berbeda. Keduanya tidak memiliki banyak pusat mandiri seperti teori inti ganda.

Pola berantai terjadi pada satu jalur panjang secara sekuensial, sedangkan pola gurita memancar secara independen dari satu pusat ke berbagai arah.

Ruang Kosong di Antara Tentakel

Sekarang kita fokus ke anatomi utuh sang Kota Gurita. Kalau jalan raya dan permukiman di sekitarnya adalah "tentakel", lalu apa yang ada di sela-sela atau di antara tentakel-tentakel tersebut?

Inilah karakteristik kunci yang sering terlupakan: Kota berpola gurita tidak padat secara merata. Pembangunan memang sangat agresif dan padat di pinggir jalan raya (tentakel), tapi hal ini meninggalkan ruang-ruang renggang di antaranya.

Kenapa ruang di antaranya bisa kosong? Jawabannya kembali ke konsep aksesibilitas. Ruang-ruang kosong yang berbentuk seperti "irisan kue pie" ini berada jauh dari jalan raya utama, sehingga aksesnya sulit dan biayanya mahal.

Bagi pengembang perumahan atau bisnis komersial, area ini tidak menarik. Akibatnya, area di sela-sela tentakel ini biasanya dibiarkan menjadi lahan yang lambat berkembang. Kamu akan sering menemukan lahan pertanian, ruang terbuka hijau, atau pemukiman dengan kepadatan sangat rendah di sini.