Kelangkaan: Saat Keinginan Melebihi 'Gold'-mu

Inventory Penuh, Gold Menipis

Bayangkan kamu sedang bermain game RPG (peran). Karaktermu baru saja naik level, dan kamu ingin sekali membeli "Pedang Api" yang keren dan "Armor Baja" yang kuat.

Kamu pergi ke NPC Merchant (toko) di desa. Di sana, stok pedang dan armor sangat melimpah, tidak ada batasnya (unlimited). TAPI, Gold (koin emas) yang kamu kumpulkan susah payah ternyata hanya cukup untuk membeli salah satu dari item tersebut.

ilustrasi

Kondisi di mana kamu punya banyak keinginan yang ingin dicapai, tapi Gold yang kamu punya sebagai alat tukarnya tidak mencukupi, itulah wujud paling murni dari kelangkaan.

Inti dari kelangkaan bukanlah ketiadaan barang secara fisik, melainkan adanya ketidakseimbangan antara apa yang kamu inginkan dengan "alat pemuas" yang kamu miliki.

ilustrasi

Dalam game, kamu ingin membeli Ramuan Darah dan Ramuan Mana yang stoknya sangat melimpah di toko, tapi Gold kamu tidak cukup untuk membeli keduanya. Apakah ini termasuk kelangkaan?

  • A. Tidak, karena stok ramuan di toko masih sangat melimpah.
  • B. Tidak, karena kelangkaan hanya terjadi kalau item tersebut susah dicari (drop rate rendah).
  • C. Ya, karena kamu harus memilih akibat Gold (alat pemuas) yang kamu miliki lebih sedikit dari keinginanmu.
  • D. Ya, tapi hanya untuk sementara sampai stok toko habis terjual.

Jawaban: C. Ya, karena kamu harus memilih akibat Gold (alat pemuas) yang kamu miliki lebih sedikit dari keinginanmu.

Meski stok toko melimpah, keinginanmu (beli dua ramuan) melebihi alat tukarmu (Gold). Keterbatasan inilah yang disebut kelangkaan ekonomi.

Kelangkaan terjadi ketika alat pemuas (Gold) tidak cukup untuk memenuhi semua keinginan, tidak peduli seberapa melimpah stok barangnya.

Bawa Konsepnya ke Dunia Nyata

Di dunia nyata, analogi game tadi sangat berlaku. Gold di dunia nyata adalah uang sakumu. Sementara Stamina/Energy di dalam game adalah waktumu.

Banyak orang mengira kelangkaan hanya terjadi dalam skala besar (makro): misalnya pabrik berhenti beroperasi sehingga minyak goreng hilang dari pasar, atau sumber daya alam seperti air mengering saat kemarau (physical shortage).

Padahal, kelangkaan juga terjadi di level individu (mikro). Saat seorang pelajar sedang berada di toko buku dan kebingungan harus membeli tas baru atau buku latihan soal karena uang sakunya pas-pasan, pelajar tersebut sedang berhadapan dengan kelangkaan.

Uang saku yang terbatas adalah bentuk nyata dari sumber daya yang langka. Selama ada keinginan yang belum terpenuhi akibat keterbatasan alat (uang/waktu), di situlah konsep kelangkaan bekerja.

Tentukan apakah situasi berikut merupakan contoh kelangkaan dari segi keterbatasan sumber daya pribadi (seperti uang atau waktu):

  • Kamu ingin ikut ekskul basket dan band yang jadwalnya bersamaan, sehingga kamu hanya bisa memilih salah satu. — Kelangkaan Pribadi
  • Pabrik sepatu berhenti beroperasi sehingga sepatu menjadi susah dicari di pasaran. — Bukan Kelangkaan Pribadi
  • Kamu harus memutuskan apakah uang jajan mingguan dipakai untuk nonton bioskop atau ditabung. — Kelangkaan Pribadi

Waktu (jadwal ekskul) dan uang jajan adalah sumber daya pribadimu yang terbatas. Berhentinya pabrik sepatu adalah contoh kelangkaan dari segi suplai eksternal (barang di pasar/physical shortage).

Waktu dan uang pribadi adalah sumber daya terbatas. Jika kita harus memilih karena keterbatasan itu, maka itu adalah kelangkaan pribadi/mikro.

Kenapa Kita Dipaksa Memilih?

Sebelumnya kamu mungkin berpikir bahwa keharusan kita untuk menentukan pilihan hanya muncul kalau barangnya benar-benar langka atau susah dicari di toko. Mari kita luruskan pandangan ini!

Bayangkan kamu pergi ke sebuah mall besar. Di sana, kamu dikelilingi oleh ratusan pasang sepatu sneakers dari berbagai merek, ribuan potong baju modis, dan puluhan restoran yang menyajikan makanan enak. Dari kacamata penjual atau toko, stok barang mereka sangat melimpah. Sama sekali tidak ada kelangkaan fisik di sana.

TAPI, apakah kamu bisa memborong dan membawa pulang semua barang dan makanan itu? Tentu saja tidak.

Jadi, kelangkaan (dalam ekonomi) tidak mengharuskan dunia kehabisan barang. Selama kamu harus merelakan satu hal untuk mendapatkan hal lain karena sumber dayamu terbatas, kamu sedang mempraktikkan ilmu ekonomi untuk mengatasi kelangkaan.

Banyak orang mengira kelangkaan dan keharusan memilih hanya terjadi saat barang di pasar benar-benar habis. Kenapa anggapan ini keliru?

  • A. Karena barang di pasar tidak akan pernah habis berkat teknologi modern.
  • B. Karena meskipun barang berlimpah, daya beli (uang) individu terbatas, sehingga tetap harus memilih.
  • C. Karena pemerintah selalu mengatur agar harga barang tetap murah.
  • D. Karena keharusan memilih hanya berlaku untuk barang-barang mewah saja.

Jawaban: B. Karena meskipun barang berlimpah, daya beli (uang) individu terbatas, sehingga tetap harus memilih.

Walau mall dipenuhi barang melimpah, keterbatasan uang di dompet kita memaksa kita untuk tetap berkorban dan menentukan pilihan. Inilah esensi biaya peluang (opportunity cost).

Keharusan memilih lahir dari keterbatasan alat pemuas individu (seperti uang), bukan semata-mata karena stok barang eksternal sedikit.