PDB vs PNB: Nilai Produksi, Bukan Neraca
PDB vs PNB: Fokus Wilayah vs Fokus Orang
Pernah kepikiran nggak, waktu ada tenaga kerja asing (TKA) yang kerja di pabrik di Indonesia, apakah hasil kerja mereka dihitung sebagai "produksi Indonesia"? Jawabannya tergantung kita pakai kacamata apa: PDB atau PNB. Keduanya sama-sama menghitung total nilai produksi barang dan jasa, tapi filternya beda.
PDB (Produk Domestik Bruto) atau dalam bahasa Inggris disebut Gross Domestic Product (GDP), menggunakan kacamata Geografis / Wilayah. Kata kuncinya: Domestik. PDB menghitung semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam batas wilayah suatu negara, tanpa peduli siapa yang memproduksinya. Baik itu warga negara lokal maupun perusahaan asing, selama pabrik atau aktivitasnya ada di wilayah negara tersebut, nilainya masuk ke PDB.
PNB (Produk Nasional Bruto) atau Gross National Product (GNP), menggunakan kacamata Kewarganegaraan / Orang. Kata kuncinya: Nasional. PNB menghitung semua barang dan jasa yang diproduksi oleh warga negara asli, tak peduli mereka sedang berada di dalam negeri maupun sedang bekerja di luar negeri. Produksi warga asing di dalam negeri dibuang dari hitungan ini.
Biar lebih jelas, coba lihat irisan keduanya di diagram ini:
Intinya:
PDB = Di mana barang itu dibuat?
PNB = Siapa yang membuat barang itu?
Dari kasus di bawah ini, mana yang masuk ke dalam hitungan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia? (Pilih semua yang benar)
- Gaji Tono (WNI) yang bekerja di tambang minyak di Arab Saudi.
- Keuntungan restoran sushi milik warga Jepang yang buka cabang di Jakarta.
- Gaji Susi (WNI) yang bekerja di pabrik tekstil di Bandung.
Jawaban: Keuntungan restoran sushi milik warga Jepang yang buka cabang di Jakarta.; Gaji Susi (WNI) yang bekerja di pabrik tekstil di Bandung.
PDB fokus pada lokasi (domestik). Selama produksinya terjadi di wilayah geografis Indonesia (seperti restoran Jepang di Jakarta dan pabrik di Bandung), maka itu masuk PDB Indonesia. Gaji Tono di Arab Saudi masuknya ke PNB Indonesia.
PDB menghitung semua produksi di dalam batas wilayah negara, tanpa peduli kewarganegaraan pelakunya.
Menghitung PNB dari PDB
Karena PDB dan PNB punya fokus yang berbeda, kita bisa mencari nilai PNB jika kita sudah tahu nilai PDB. Caranya adalah dengan memodifikasi PDB menggunakan sebuah jembatan angka yang disebut Pendapatan Faktor Neto dari Luar Negeri (PFNLN).
Ingat kembali prinsipnya: PNB hanya peduli pada warga negara. Jadi, dari total nilai PDB (yang masih kecampur sama produksi orang asing di dalam negeri), kita harus:
Mengurangi pendapatan/produksi Warga Negara Asing (WNA) di dalam negeri.
Menambahkan pendapatan/produksi Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di luar negeri.
Secara matematis, rumusnya ditulis seperti ini:
Mari kita pakai angka konkret: Misal, total PDB Indonesia tahun ini adalah 1.000 triliun.
Pendapatan warga/perusahaan asing di Indonesia: 300 triliun. (Ini harus kita buang)
Pendapatan TKI/perusahaan Indonesia di luar negeri: 200 triliun. (Ini harus kita masukkan)
Maka, $PNB = 1.000 + (200 - 300) = 900 \text{ triliun}$. Di kasus ini, nilai PNB lebih kecil dari PDB karena uang asing yang berputar di dalam negeri lebih besar daripada uang warga kita di luar negeri (hal yang sangat umum untuk negara berkembang yang banyak menerima investasi asing).
Coba mainkan kalkulator sederhana di bawah ini untuk melihat bagaimana produksi WNA dan WNI menggeser nilai PDB menjadi PNB!
Diketahui PDB suatu negara adalah $1.000. Jika warga negara asing di dalam negeri menghasilkan $300 dan warga negara asli di luar negeri menghasilkan $200, berapakah nilai PNB negara tersebut?
- A. $1.500
- B. $1.100
- C. $900
- D. $500
Jawaban: C. $900
PNB = PDB + (WNI di LN - WNA di DN). PNB = 1.000 + 200 - 300 = 900.
PNB dihitung dengan mengeluarkan produksi asing di dalam negeri dan memasukkan produksi warga negara di luar negeri.
Kenapa Tidak Ada Surplus atau Defisit pada PDB?
Sekarang, mari kita luruskan sebuah miskonsepsi (kesalahan pahaman) yang sering bikin jebak di soal ujian: menganggap PDB atau PNB bisa mengalami surplus atau defisit.
PDB dan PNB adalah alat ukur "Total Output" (Nilai Produksi). Bayangkan PDB itu seperti total omzet atau pendapatan kotor sebuah toko dalam setahun. Angkanya adalah nilai absolut dari akumulasi semua barang/jasa. Karena dia mengukur total, statusnya dari tahun ke tahun cuma ada dua kemungkinan:
Naik (ekonomi tumbuh)
Turun (ekonomi menyusut / resesi) Kamu tidak bisa bilang "Tinggi badan saya sedang defisit". Yang benar adalah tinggi badanmu bertambah atau tetap. Sama seperti PDB.
Lalu, kapan kata surplus atau defisit dipakai? Istilah surplus dan defisit hanya berlaku pada Neraca Transaksi (Balance). Neraca adalah alat ukur yang membandingkan dua arus yang berlawanan arah secara langsung.
Contohnya:
Neraca Perdagangan (Ekspor vs Impor): Kalau ekspor > impor = Surplus. Kalau ekspor < impor = Defisit.
Anggaran Negara / APBN (Pendapatan vs Pengeluaran): Kalau pendapatan > pengeluaran = Surplus. Kalau pengeluaran > pendapatan = Defisit.
Lihat perbedaan karakternya di tabel berikut:
Tentukan apakah pernyataan berikut Benar atau Salah mengenai penggunaan istilah dalam ekonomi makro!
- PDB Indonesia tahun ini mengalami surplus karena nilainya lebih tinggi dari tahun lalu. — Salah
- Neraca perdagangan mengalami defisit jika nilai impor sebuah negara lebih besar dari ekspornya. — Benar
PDB tidak mengenal surplus/defisit, melainkan pertumbuhan (naik/turun). Istilah surplus/defisit hanya dipakai untuk neraca yang membandingkan arus masuk dan keluar (seperti APBN dan neraca perdagangan).
PDB/PNB adalah ukuran total output yang hanya bisa naik/turun, sedangkan surplus/defisit berlaku untuk neraca yang membandingkan dua arus berlawanan (seperti ekspor-impor).