Membongkar Pola Frasa via Uji Sisipan

Mencari 'Bos' dalam Frasa

Pernahkah kamu mikir, kalimat itu ibarat sebuah tim besar, dan di dalamnya ada tim-tim kecil yang punya tugas masing-masing? Nah, frasa adalah tim kecil itu. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi (bisa sebagai subjek, predikat, objek, dll), dan satu hal yang pasti: frasa tidak punya predikat sendiri (bukan sebuah kalimat utuh).

Dalam setiap tim kecil ini, pasti ada sosok 'Bos' (kata inti) dan ada 'Anak Buah' (kata penjelas). Bahasa Indonesia punya hukum sintaksis yang sangat khas untuk menentukan siapa Bos dan siapa Anak Buah, yaitu Hukum D-M (Diterangkan - Menerangkan).

Aturan ini mewajibkan Sang Bos, alias kata yang Diterangkan (D), untuk selalu berada di barisan depan. Sedangkan si Anak Buah, alias kata yang Menerangkan (M), ngekor di belakang. Aturan ini berkebalikan dengan bahasa Inggris yang menganut M-D (contohnya green book: penjelas dulu, baru inti).

Lalu, gimana cara gampang mengenali si Bos? Pakai trik sisipan! Coba selipkan kata seperti 'yang', 'berupa', 'tentang', atau 'terbuat dari' di antara kedua kata tersebut.

Kalau kita membedah "Rumah Sakit" dengan trik sisipan, jadinya "Rumah (yang khusus untuk orang) Sakit". Dari sini ketahuan kalau intinya tetap sebuah "Rumah", sedangkan "Sakit" cuma memberikan keterangan spesifik rumah macam apa itu. Coba lagi: "Baju merah" menjadi "Baju (yang) merah", berarti Bos-nya adalah "Baju". Frasa akan selalu mempertahankan arti Bos-nya walaupun penjelasnya dibuang!

Kalau kita punya frasa "buku sejarah", manakah yang merupakan Inti (Diterangkan) dari frasa tersebut berdasarkan Hukum D-M?

  • A. Buku
  • B. Sejarah
  • C. Buku sejarah
  • D. Keduanya sama-sama inti

Jawaban: A. Buku

Terapkan trik sisipan: "buku (yang berisi tentang) sejarah". Tanpa kata sejarah, makna dasar benda tersebut tetaplah sebuah buku. Jadi, "buku" adalah intinya.

Trik mencari Inti frasa dengan sisipan 'yang' pada hukum D-M.

Tes Cepat Kelas Kata

Sebelum kita bedah soalnya, mari bereskan dulu sebuah miskonsepsi yang sering menjebak: banyak orang mengira bahwa kata yang mendeskripsikan suatu kondisi, kejadian, atau situasi otomatis adalah kata sifat (adjektiva).

Contohnya kata "gangguan" atau "bantuan". Karena kata-kata ini menggambarkan sebuah situasi atau kondisi, insting kita sering tertipu dan mengiranya sebagai kata sifat. Padahal, imbuhan -an dalam bahasa Indonesia itu paling sering berfungsi mencetak kata benda (nomina). Jadi, jangan sekadar menebak kelas kata dari maknanya saja. Kita butuh sebuah "tes uji" pakai kata bantu!

Coba kita masukkan kata "gangguan" ke lab pengujian kita. Kalau diuji pakai 'sangat' jadinya "sangat gangguan" — tidak berterima dalam tata bahasa ❌. Tapi kalau kita pakai negasi nomina, "bukan gangguan" — sangat masuk akal ✅! Ini adalah bukti mutlak bahwa "gangguan" adalah sebuah Nomina (Kata Benda).

Kamu menemukan kata "kemajuan". Jika ingin memastikan secara tata bahasa apakah kata tersebut Nomina (kata benda) atau Adjektiva (kata sifat), uji diagnostik mana yang paling tepat untuk membuktikannya?

  • A. Menambahkan "sangat" -> sangat kemajuan
  • B. Menambahkan "sedang" -> sedang kemajuan
  • C. Menambahkan "bukan" -> bukan kemajuan
  • D. Menggabungkannya dengan kata kerja

Jawaban: C. Menambahkan "bukan" -> bukan kemajuan

'Kemajuan' tidak bisa ditambah 'sangat' (terdengar aneh), jadi bukan kata sifat. 'Bukan kemajuan' terdengar sangat logis, maka itu adalah ciri mutlak Nomina.

Nomina (kata benda) hanya bisa dinegasikan dengan kata 'bukan', tidak bisa dengan 'sangat'.

Membedah 'Gangguan Pencernaan'

Sekarang, berbekal detektor D-M dan tes diagnostik kelas kata, mari kita terapkan pada frasa incaran kita di soal: "gangguan pencernaan".

Kesimpulan akhirnya: karena Inti/Bos dari frasa ini adalah sebuah Nomina, maka identitas keseluruhan grup kata ini mengikuti identitas Bos-nya. Kita menyebutnya sebagai Frasa Nominal dengan struktur Nomina + Nomina dan pola sintaksis D-M.