Historiografi: Membedah Penulisan Sejarah

Apa Sebenarnya 'Historiografi'?

Waktu denger kata historiografi, mungkin rasanya kayak istilah akademik yang rumit banget. Padahal, kalau dibedah, artinya sangat sederhana dan langsung to the point.

Historiografi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani:

Jadi, historiografi pada dasarnya cuma nama lain dari penulisan sejarah. Ini adalah proses di mana seorang sejarawan meneliti sebuah peristiwa masa lalu, lalu menuliskannya menjadi sebuah buku atau cerita sejarah yang bisa kita baca sekarang.

Tugas seorang sejarawan bukan cuma ngumpulin fakta, tapi merangkai fakta-fakta itu jadi sebuah cerita yang masuk akal. Itulah historiografi.

ilustrasi

Tentukan Benar atau Salah pernyataan mengenai konsep paling dasar historiografi berikut ini!

  • Historiografi adalah cerita atau buku sejarah yang kamu baca, bukan kejadian aslinya itu sendiri. — Benar
  • Historiografi merupakan padanan kata dari sejarah sebagai peristiwa. — Salah

Historiografi adalah karya tulis/ceritanya (sejarah sebagai kisah). Kejadian aslinya di masa lalu disebut sejarah sebagai peristiwa.

Historiografi adalah penulisan sejarah ('sejarah sebagai kisah'), bukan kejadian nyatanya ('sejarah sebagai peristiwa').

Mengapa Tidak Bisa 100% Persis Aslinya?

Kalau historiografi itu tulisan tentang sejarah, pertanyaannya: Bisa nggak sih tulisan itu merekonstruksi kejadian masa lalu 100% persis kayak aslinya?

Jawabannya: Mustahil.

Kenapa? Karena sejarawan nggak punya mesin waktu. Mereka nggak bisa balik ke masa lalu buat ngeliat langsung apa yang terjadi. Mereka cuma bisa mengandalkan sisa-sisa peninggalan dari masa itu (sumber sejarah) yang seringkali nggak lengkap, rusak, atau bahkan bertentangan satu sama lain.

Ketika nulis sejarah, seorang sejarawan harus mengisi "lubang-lubang" informasi yang hilang dengan interpretasi atau tafsirannya sendiri. Karena itu, historiografi sifatnya subjektif, bukan sekadar fotokopi dari kenyataan masa lalu.

Setiap penulis punya latar belakang, pendidikan, dan pengalaman hidup yang beda-beda. Perbedaan inilah yang bikin sudut pandang mereka saat menafsirkan bukti sejarah juga ikut berbeda.

Kenapa sebuah karya historiografi mustahil merekonstruksi masa lalu 100% persis seperti kejadian aslinya secara objektif?

  • A. Karena masa lalu sudah terhapus seluruhnya dari ingatan.
  • B. Karena sejarawan harus mengisi kekosongan informasi dari sumber sejarah dengan interpretasi pribadinya.
  • C. Karena pemerintah selalu melarang penulisan sejarah yang sepenuhnya objektif.
  • D. Karena historiografi modern sengaja dibuat untuk mengaburkan fakta yang sebenarnya.

Jawaban: B. Karena sejarawan harus mengisi kekosongan informasi dari sumber sejarah dengan interpretasi pribadinya.

Sejarawan menyusun sejarah dari bukti-bukti yang terbatas dan tidak lengkap. Untuk menjadikannya sebuah kisah utuh, mereka harus melakukan interpretasi/tafsiran, sehingga hasilnya tidak bisa 100% objektif persis aslinya.

Historiografi selalu melibatkan interpretasi sejarawan untuk merangkai sumber-sumber yang tidak lengkap, menjadikannya subjektif.

Sudut Pandang, Bias, dan Zaman

Karena historiografi sangat bergantung pada siapa yang menulis dan kapan ditulisnya, kita jadi punya berbagai jenis atau corak penulisan sejarah. Latar belakang penulis dan tujuan penulisan sangat mempengaruhi bias dalam sebuah buku sejarah.

Mari kita lihat secara langsung bedanya dari masa ke masa dan antar negara:

Jadi, waktu kita baca buku sejarah, kita bukan cuma cari tau "apa yang terjadi", tapi kita juga harus peka "siapa yang nulis" dan "apa kepentingannya".

Buku pelajaran sejarah yang menyebutkan Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan bangsa merupakan contoh nyata dari pengaruh apa dalam historiografi?

  • A. Bukti bahwa buku tersebut ditulis pada zaman kerajaan Mataram.
  • B. Sudut pandang (bias) Indonesia-sentris dari sejarawan modern.
  • C. Pengaruh metode penulisan sejarah Eropa yang diterapkan di Indonesia.
  • D. Rekonstruksi yang 100% objektif tanpa adanya interpretasi penulis.

Jawaban: B. Sudut pandang (bias) Indonesia-sentris dari sejarawan modern.

Menyebutnya pahlawan menunjukkan sudut pandang bangsa Indonesia (Indonesia-sentris). Sebaliknya, historiografi Belanda menyebutnya pemberontak. Ini bukti historiografi mengandung bias/sudut pandang.

Narasi pahlawan vs pemberontak membuktikan bahwa historiografi dibentuk oleh sudut pandang dan bias kepentingan nasional penulisnya.