Membongkar Pola Kalimat Jepang (Bukan S-P-O-K!)
Aturan Emas: Kata Kerja Jaga Gawang
Kalau kita pakai bahasa Indonesia, kita terbiasa dengan urutan Siapa ngapain apa (S-P-O). Kata kerjanya selalu ada di tengah, setelah subjek. Misalnya, kalimat "Saya makan apel."
Tapi, di bahasa Jepang, aturannya beda total. Bahasa Jepang pakai urutan S-O-P (Subjek - Objek - Predikat/Kata Kerja) atau sering juga disebut S-O-V. Perbedaan paling krusial ada pada posisi kata kerja: kata kerjanya pantang ada di tengah dan wajib pindah ke posisi paling ujung belakang kalimat.
Analoginya seperti ini: bayangkan struktur kalimat itu sebuah lapangan pertandingan. Kata kerja di bahasa Jepang itu perannya sebagai penjaga gawang. Dia nggak boleh lari-lari ke tengah lapangan, tapi harus standby jaga gawang alias menutup kalimat di posisi belakang.
Tentukan apakah pernyataan berikut tentang urutan kalimat bahasa Jepang Benar atau Salah!
- Dalam bahasa Jepang, kata kerja selalu diletakkan tepat setelah subjek. — Salah
- Kata kerja bahasa Jepang mutlak wajib berada di ujung akhir kalimat. — Benar
- Kita boleh menaruh keterangan waktu atau keterangan tempat di belakang kata kerja. — Salah
Kata kerja di bahasa Jepang HARUS berada di paling akhir. Segala macam keterangan (waktu, tempat, objek) wajib ditaruh di depan kata kerja, tidak boleh ditaruh di belakangnya.
Dalam bahasa Jepang, kata kerja atau predikat harus selalu berada di posisi paling akhir kalimat.
Rumus Matematis Kalimat Bahasa Jepang
Di bahasa Indonesia, urutan kata sangat menentukan arti kalimat. "Budi digigit anjing" beda banget artinya dengan "Anjing digigit Budi". Tapi di bahasa Jepang, fungsi sebuah kata (apakah dia subjek, tempat, atau alat) ditentukan oleh partikel yang menempel di belakangnya.
Partikel ini ibarat "label" penanda peran. Kalau kita jadikan rumus matematika, kalimat tentang keadaan di suatu tempat dengan cara tertentu bisa dirumuskan menjadi balok-balok susun berikut:
Mari kita pasang kata-kata acak dari soal tadi ke dalam cetakan rumus ini:
わたし (Topik) + は
インドネシア (Tempat) + に
ひとり (Cara) + で
すんでいます (Kata Kerja)
Selama partikelnya menempel kuat pada kata di depannya (seperti hitori harus dengan de, atau Indoneshia harus dengan ni), urutan [Tempat] dan [Cara] di tengah kalimat ini sebenarnya boleh ditukar-tukar posisinya tanpa merusak tata bahasa. TAPI, balok Kata Kerja tetap digembok mutlak di ujung paling kanan!
Di antara pernyataan berikut, mana yang paling tepat menjelaskan tentang sifat 'partikel' dalam bahasa Jepang?
- A. Partikel adalah kata kerja bantu yang letaknya di akhir.
- B. Partikel selalu diletakkan mendahului kata yang ingin dijelaskannya.
- C. Partikel berfungsi sebagai 'label' atau perekat peran yang diletakkan menempel tepat setelah kata tersebut.
- D. Partikel adalah imbuhan yang bisa mengubah kata benda menjadi kata kerja.
Jawaban: C. Partikel berfungsi sebagai 'label' atau perekat peran yang diletakkan menempel tepat setelah kata tersebut.
Partikel (seperti wa, ni, de) selalu diletakkan SETELAH kata asalnya (misal: Watashi + wa) dan bertugas sebagai penanda fungsi kata tersebut dalam kalimat (sebagai subjek, tempat, dll).
Partikel diletakkan SETELAH kata untuk menandai fungsi gramatikal kata tersebut di dalam kalimat bahasa Jepang.
Kenapa Terjemahan Harfiah Bikin Nyasar?
Kalau kamu sempat terkecoh milih jawaban Opsi D (インドネシアに わたしは すんでいます ひとりで), tenang, kamu nggak sendirian. Ini jebakan yang sangat umum karena otak kita masih secara refleks "menerjemahkan bahasa Jepang pakai kacamata bahasa Indonesia".
Coba kita bedah Opsi D. Kalau diterjemahkan satu-satu secara harfiah sesuai urutannya, bunyinya: "Di Indonesia, saya tinggal, sendirian." Terdengar sangat natural di telinga kita, kan? Karena persis mengikuti pola logika bahasa Indonesia (Keterangan-Subjek-Predikat-Keterangan).
Namun, ingat kembali Aturan Emas kita di awal! Di Opsi D, kata kerja sun de imasu (tinggal) nyangkut di tengah-tengah, dan malah ditutup oleh keterangan hitori de (sendirian) di bagian paling akhir. Secara struktur bahasa Jepang, ini langsung gugur karena predikatnya kehilangan pos jaga gawangnya.
Mengapa menyusun kalimat bahasa Jepang menggunakan logika terjemahan harfiah dari bahasa Indonesia sering kali berujung salah?
- A. Karena bahasa Jepang tidak membutuhkan partikel.
- B. Karena logika susunan bahasa Indonesia akan membuat posisi kata kerja Jepang tergeser jadi di tengah kalimat.
- C. Karena dalam bahasa Jepang, objek harus diletakkan paling depan sebagai topik.
- D. Karena bahasa Jepang tidak memiliki padanan kata yang pas untuk diterjemahkan.
Jawaban: B. Karena logika susunan bahasa Indonesia akan membuat posisi kata kerja Jepang tergeser jadi di tengah kalimat.
Pola kalimat Indonesia adalah S-P-O (predikat di tengah), sedangkan Jepang adalah S-O-P (predikat di akhir). Menerjemahkan harfiah membuat kata kerja salah tempat.
Terjemahan harfiah menggunakan pola S-P-O bahasa Indonesia akan membuat posisi kata kerja Jepang tergeser ke tengah kalimat, padahal harusnya di akhir.