Memburu Tulang Punggung Kalimat

Aktor dan Aksinya

Pernahkah kamu menonton pertunjukan teater? Sebuah pertunjukan baru bisa dimulai kalau minimal ada dua hal utama: aktor di panggung, dan aksi yang ia lakukan. Kalau cuma ada aktor yang berdiri diam kaku tanpa ngapa-ngapain, itu namanya patung, bukan pertunjukan.

Dalam tata bahasa Indonesia, inti kalimat itu prinsipnya persis seperti pertunjukan teater. Harus ada 'aktor' alias Subjek, dan harus ada 'aksi/keadaan' yang dialaminya alias Predikat.

Coba perhatikan kalimat super sederhana ini: Kucing tidur.

Hanya dengan dua kata itu, pesannya sudah sah dan utuh menjadi kalimat. Nah, sekarang kita lihat jawaban opsi E dari soal diagnosa tadi: Perubahan besar kehidupan manusia.

Kenapa ini keliru? Karena kumpulan kata ini hanyalah sebuah frasa benda raksasa. Ini cuma menceritakan sang Aktor, tapi tidak ada predikat atau kata kerjanya. Tidak ada aksi yang dilakukan atau keadaan yang sedang terjadi pada perubahan tersebut. Jadi, mencari inti kalimat itu berarti harus selalu mencari minimal pasangan sejoli ini: Inti Subjek dan Inti Predikat.

Mana dari pilihan berikut yang sudah memenuhi syarat minimal untuk disebut sebagai sebuah kalimat?

  • A. Anak kecil berbaju merah itu.
  • B. Buku tebal di atas meja.
  • C. Adik berlari.
  • D. Di halaman rumah yang luas.

Jawaban: C. Adik berlari.

'Adik berlari' sudah memiliki Subjek (Adik) dan Predikat/aksi (berlari). Opsi lainnya hanya Subjek yang diperluas atau sekadar Keterangan tempat.

Sebuah kalimat minimal harus memiliki Subjek (Aktor) dan Predikat (Aksi).

Mencopot 'Aksesoris' Tempat & Waktu

Misalnya kita punya kalimat yang sedikit lebih panjang: Kucing anggora berwarna putih itu sedang tidur di kursi.

Sebenarnya kita sudah tahu ide intinya dari halaman sebelumnya. Tapi, bagaimana nasib frasa di kursi?

Di kursi adalah Keterangan Tempat. Dalam struktur kalimat, keterangan tempat, waktu, atau cara (yang biasanya diawali dengan di, ke, dari, pada, dalam, dengan) ibarat 'aksesoris' tambahan.

Aksesoris memang bikin kalimat jadi lebih informatif dan detail, tapi dia bukan bagian dari tulang punggung kalimat. Kalau aksesoris ini kita copot atau buang, makna utamanya (si kucing yang sedang tidur) tetap berdiri kokoh dan masuk akal.

Dalam kalimat 'Mahasiswa berkumpul di aula kampus pada siang hari', bagian manakah yang merupakan aksesoris (Keterangan) yang bisa dibuang tanpa merusak inti kalimat?

  • A. Mahasiswa
  • B. berkumpul
  • C. di aula kampus
  • D. di aula kampus pada siang hari

Jawaban: D. di aula kampus pada siang hari

Frasa 'di aula kampus' (tempat) dan 'pada siang hari' (waktu) diawali oleh preposisi dan berfungsi sebagai aksesoris/keterangan yang bisa diabaikan saat mencari inti kalimat.

Frasa yang diawali preposisi (di, ke, dari, pada, dll) umumnya berfungsi sebagai Keterangan dan bukan bagian dari inti kalimat.

Memangkas Parasit 'Yang'

Sekarang, setelah membuang aksesoris keterangan, sisa kalimat kita tinggal: Kucing anggora berwarna putih itu sedang tidur.

Apakah ini sudah siap jadi inti kalimat murni? Belum! Masih ada kata-kata tambahan yang menempel erat pada si kucing.

Dalam bahasa Indonesia, kata yang bertugas mengubah serombongan kata di belakangnya menjadi sekadar kata sifat (pewatas) yang menjelaskan kata benda di depannya.

Frasa anggora berwarna putih itu hanyalah penjelas tambahan untuk memberitahu jenis dan warna spesifik dari si kucing. Ibarat parasit, mereka menempel dan numpang hidup pada kata utama yaitu Kucing. Kalau semua penjelas ini digunting dan dipangkas, inti pembicaraannya sama sekali tidak berubah: kita tetap membicarakan si Kucing.

Dengan membuang parasit penjelas pada subjek, kita akhirnya menemukan inti Subjek yang benar-benar murni: Kucing. Digabung dengan inti Predikat, inti utuhnya kembali ke wujud aslinya: Kucing tidur.

Manakah inti Subjek dari frasa 'Gedung pencakar langit yang baru dibangun tahun lalu itu...'?

  • A. Gedung pencakar langit
  • B. Gedung
  • C. dibangun tahun lalu
  • D. yang baru dibangun

Jawaban: B. Gedung

Semua kata setelah 'Gedung' (pencakar langit, yang baru dibangun...) hanyalah pewatas penjelas sifat si gedung. Inti murninya adalah 'Gedung'.

Perluasan kata benda (pewatas) yang ditandai dengan kata 'yang' atau deretan kata sifat dapat diabaikan untuk menemukan inti Subjek.