Logika Antarkalimat: Teknik Panah Searah & Tabrakan

Jangan Percaya Telingamu

ilustrasi

Pernah nggak kamu ngerjain soal konjungsi (kata hubung) dengan cara masukin tiap pilihan ke bagian yang rumpang, lalu dibaca keras-keras di dalam hati? Kalau dirasa "enak" dan "luwes" pas dibaca, itu yang kamu pilih.

Mereka sering sengaja menaruh kata hubung yang secara susunan kalimat terdengar benar dan mulus, padahal secara logika makna sebenarnya putus atau aneh. Konjungsi itu bukan sekadar pelengkap kalimat biar puitis, melainkan sebuah jembatan logika antar dua ide.

Mulai sekarang, anggap kalimat yang bolong itu sebagai jembatan yang putus. Kamu nggak bisa asal pasang bahan jembatan. Kamu wajib ngecek dulu bentuk tebing di tepi kiri (kalimat sebelumnya) dan tepi kanan (kalimat setelahnya) sebelum memilih jembatannya.

Konsep Panah Logika

ilustrasi

Biar gampang menganalisis "tebing kiri dan kanan", mari kita gunakan konsep Panah Logika. Setiap kalimat pada dasarnya membawa sebuah 'arah' ide.

Bayangkan kalimat pertama adalah sebuah mobil yang sedang melaju. Kalimat kedua adalah mobil yang lain.

Tentukan arah logika dari dua kalimat ini: 'Burung unta memiliki sayap yang besar. Mereka tidak dapat menggunakannya untuk terbang.'

  • A. Panah Searah (Penambahan)
  • B. Panah Tabrakan (Pertentangan)
  • C. Panah Sebab-Akibat
  • D. Tidak ada arah panah

Jawaban: B. Panah Tabrakan (Pertentangan)

Kalimat pertama bersayap (bisa terbang), kalimat kedua fakta membatasi (tidak bisa terbang). Ini adalah ide yang berlawanan/tabrakan.

Menentukan arah logika antar kalimat berdasarkan maknanya (mendukung vs menentang).

Kenapa Bukan 'Selain Itu'?

Di soal tadi, kamu mungkin terjebak memilih "Selain itu". Yuk kita bedah kenapa itu kurang tepat pakai konsep Panah Logika.

"Selain itu" adalah konjungsi untuk panah searah. Konjungsi ini dipakai untuk menggabungkan dua hal yang sifatnya sejalan atau sekadar nambahin poin di list yang sama. Contoh: "Kue ini enak. (Selain itu), harganya murah." -> Ide positif (+) ditambah ide positif (+). Arahnya sama-sama maju.

Sekarang bandingkan dengan konjungsi panah tabrakan seperti "Namun" atau "Akan tetapi". Contoh: "Kue ini enak. (Namun), antrenya dua jam." -> Ide positif (+) ditabrak dengan fakta negatif/membatasi (-). Arahnya berlawanan.

Manakah penggunaan konjungsi 'Selain itu' yang tepat berdasarkan logika panah searah?

  • A. Cuaca hari ini sangat cerah. Selain itu, anginnya bertiup sepoi-sepoi.
  • B. Cuaca hari ini sangat cerah. Selain itu, tiba-tiba turun hujan deras.
  • C. Budi sangat pintar matematika. Selain itu, dia selalu mendapat nilai 0.
  • D. Sepatu itu desainnya bagus. Selain itu, solnya mudah lepas.

Jawaban: A. Cuaca hari ini sangat cerah. Selain itu, anginnya bertiup sepoi-sepoi.

Opsi A menggabungkan dua ide positif yang sejalan. Opsi lainnya menggabungkan ide yang saling bertentangan sehingga seharusnya menggunakan 'namun/akan tetapi'.

'Selain itu' digunakan untuk menghubungkan dua ide yang searah (penambahan informasi).