Konsep J.S. Furnivall: Kumpul Beda Hati

Grup Tugas Bentukan Guru Galak

Pernahkah kamu masuk kelompok tugas yang anggotanya dibagi acak oleh guru paling killer di sekolah?

Kamu dan teman sekelompokmu mungkin punya latar belakang, hobi, dan circle yang bertolak belakang. Selama jam pelajaran, kalian duduk di satu meja yang sama dan menyelesaikan tugas tanpa ribut. Tapi begitu bel istirahat berbunyi, kalian langsung bubar jalan kembali ke geng masing-masing—tanpa ada niat nongkrong bareng sepulang sekolah.

Tiga murid sekolah dengan latar belakang berbeda duduk bersama mengerjakan tugas dengan canggung di bawah pengawasan guru tegas

Furnivall mengamati bahwa Hindia Belanda terbagi ke dalam kelompok-kelompok ras yang terpisah secara tegas:

  1. Golongan Eropa memegang kekuasaan politik dan kendali modal besar perkebunan/industri.

  2. Golongan Timur Asing (Tionghoa, Arab, India) mengisi peran perantara perdagangan dan kerajinan.

  3. Golongan Pribumi berada di lapisan bawah sebagai petani penggarap dan buruh tenaga kasar.

Mereka hidup berdampingan di bawah satu payung kekuasaan politik Hindia Belanda, namun tatanan sosial-budaya mereka tetap berdiri di "pulau"-nya masing-masing tanpa peleburan (they mix but do not combine).

Jebakan 'Kehendak Bersama'

Banyak orang mengira ketika beberapa kelompok saling bertukar barang demi keuntungan ekonomi, mereka otomatis sudah punya kehendak bersama (common will). Anggapan ini adalah sebuah jebakan konsep!

Dua tangan dari kelompok berbeda bertukar koin dengan cepat sementara badan mereka saling berpaling dingin

Dalam sosiologi, kehendak bersama (common will) menuntut adanya:

Di Hindia Belanda, setiap golongan hanya mengejar kepentingannya sendiri. Orang Eropa bernafsu memaksimalkan laba modal dan setoran ke negeri Belanda, golongan perantara mengejar keuntungan dagang, dan kaum pribumi berjuang sekadar menyambung hidup. Struktur sosialnya bersifat non-komplementer (berdiri terpisah-pisah) dan tidak terikat oleh satu kehendak bersama apa pun.

Menurut konsep J.S. Furnivall, situasi mana yang benar-benar mencerminkan adanya 'kehendak bersama' (common will) dalam suatu masyarakat?

  • Pembagian peran ekonomi antarkelompok sudah berlangsung efisien dan teratur tanpa keluhan.
  • Pemerintah menetapkan aturan ketat yang wajib dipatuhi bersama oleh setiap golongan masyarakat.
  • Adanya kesadaran kolektif dan komitmen nilai bersama untuk merajut masa depan satu masyarakat.
  • Kelompok-kelompok sosial saling memerlukan kebutuhan pokok harian lewat transaksi di pasar terbuka.

Jawaban: Adanya kesadaran kolektif dan komitmen nilai bersama untuk merajut masa depan satu masyarakat.

Kehendak bersama (common will) mengacu pada visi sosial dan nilai bersama, bukan sekadar relasi transaksi ekonomi.

Pasar: Satu-satunya Titik Temu

Jika kelompok-kelompok ras di Hindia Belanda tidak membaur dalam hal nilai, tradisi, maupun agama, lantas di manakah mereka bertemu dalam kehidupan sehari-hari?

Furnivall mengemukakan kalimat terkenalnya: “They mix but do not combine. As individuals they meet, but only in the market place, in buying and selling.”

Suasana pasar tradisional di Batavia dengan latar Kasteel Batavia karya Andries Beeckman (1662) Gambar: Andries Beeckman, Public domain — Wikimedia Commons

Kelompok-kelompok ini terpisah secara kultural:

Satu-satunya jembatan penghubung mereka adalah kebutuhan material. Hubungan antar-individu tereduksi menjadi kalkulasi untung-rugi: penjual dan pembeli, majikan dan buruh sewaan. Begitu urusan transaksi rupiah atau gulden tuntas, perjumpaan pun berakhir.

Berdasarkan tesis Furnivall, manakah contoh relasi yang paling tepat menggambarkan interaksi antarkelompok ras di Hindia Belanda?

  • Mereka aktif mendirikan asosiasi kebudayaan bersama untuk menghargai adat masing-masing golongan.
  • Interaksi antarkelompok terbatas pada transaksi jual-beli barang dan tenaga kerja di pasar atau perkebunan.
  • Seluruh kelompok menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah terpadu milik pemerintah kolonial.
  • Terdapat kebebasan penuh dalam membangun hubungan kekerabatan dan perkawinan campur antarras.

Jawaban: Interaksi antarkelompok terbatas pada transaksi jual-beli barang dan tenaga kerja di pasar atau perkebunan.

Interaksi masyarakat majemuk kolonial hanya terbatas pada bidang ekonomi (pasar) tanpa pembauran sosial-budaya.