Gerbang Imigrasi Satwa Nusantara

Hewan dari Dua Benua Berbeda

Fauna di bagian barat dan timur Indonesia memiliki karakteristik fisik yang berbeda karena berasal dari lempeng benua yang berbeda.

Anoa Dataran Rendah (*Bubalus depressicornis*) Gambar: The Land, CC BY-SA 3.0 — Wikimedia Commons

Spesies di Indonesia barat seperti Orangutan Sumatra (Pongo abelii) memiliki ciri khas satwa mamalia plasental berbadan besar yang identik dengan satwa benua Asia (Asiatis). Sebaliknya, di belahan timur, burung seperti Cenderawasih Merah (Paradisaea rubra) di Papua memperlihatkan karakteristik bulu mencolok dan pertalian keluarga yang khas dengan fauna benua Australia (Australis).

Perbedaan asal benua ini membuktikan mengapa pernyataan pada Opsi A keliru. Dari 5 daftar satwa langka pada data, hanya Cenderawasih Merah yang mencerminkan karakteristik fauna tipe Australis, sehingga tidak mewakili karakteristik seluruh satwa yang tertera.

Di sebuah kepulauan, peneliti menemukan spesies monyet terestrial (hanya bergerak di darat) yang hidup di Pulau A. Tepat di sebelah Pulau A terdapat Pulau B yang berjarak sangat dekat, namun dipisahkan oleh selat sempit berpalung sangat dalam dan berarus kencang. Di Pulau B sama sekali tidak dijumpai monyet tersebut. Berdasarkan prinsip zoogeografi, penyebab paling mendasar dari perbedaan persebaran tersebut adalah...

  • Karakteristik adaptasi vegetasi pulau B tidak cocok bagi monyet darat.
  • Hambatan perairan laut dalam mencegah migrasi darat antar kedua pulau.
  • Persebaran spesies satwa endemik pada dasarnya selalu merata di pulau berdekatan.
  • Kedua pulau tersebut tidak pernah berada pada satu lempeng benua yang sama.

Jawaban: Hambatan perairan laut dalam mencegah migrasi darat antar kedua pulau.

Jawaban B benar karena palung laut dalam purba tidak pernah surut menjadi jembatan darat saat zaman es, sehingga satwa darat tidak bisa menyeberang. Opsi A salah karena faktor pemisah utama persebaran fauna adalah perintang geografis perairan, bukan semata vegetasi. Opsi C salah karena satwa endemik justru menyebar terbatas akibat isolasi, bukan merata. Opsi D salah karena faktor penghalang langsung adalah palung laut dalam pemisah, bukan sekadar sejarah lempeng asal.

Batas alami perairan laut dalam menjadi pemisah zona fauna Asiatis, Peralihan, dan Australis.

Ruang Karantina di Tengah

Kawasan di antara Asia dan Australia terisolasi oleh perairan laut dalam, menciptakan area fauna yang sama sekali berbeda.

Ilustrasi pulau tropis dengan perairan laut dalam dan palung curam di bawah permukaan laut sebagai pembatas alami.

Pulau-pulau di bagian tengah kepulauan Nusantara, seperti Sulawesi (Anoa Dataran Rendah), Bali (Jalak Bali), dan Nusa Tenggara Timur (Komodo), dikelilingi oleh palung laut purba yang sangat dalam. Palung ini bertindak layaknya gerbang imigrasi alam yang tertutup rapat; airnya tidak pernah mengering meski permukaan laut dunia surut puluhan meter pada zaman es.

Akibatnya, mamalia besar dari daratan Asia maupun satwa khas Australia tidak bisa berjalan kaki menyeberang ke pulau-pulau tengah. Spesies yang terjebak di ruang karantina alami ini berevolusi secara mandiri selama jutaan tahun menjadi spesies endemik—organisme yang unik dan hanya dijumpai di habitat spesifik tersebut.

Garis Imajiner Pembatas Alam

Garis Wallace dan Garis Weber adalah perwakilan lokasi perairan dalam yang membagi zona zoogeografi di Indonesia.

Peta sederhana zoogeografi Indonesia membagi tiga zona: Asiatis, Peralihan, dan Australis oleh Garis Wallace dan Garis Weber beserta sebaran 5 spesies fauna.

Kedua garis ini bukan sekadar coretan imajiner di atas kertas peta, melainkan penanda spasial dari gerbang imigrasi alam berupa batas palung laut dalam:

  1. Garis Wallace: Membentang di antara Kalimantan dan Sulawesi serta membelah Selat Lombok, membatasi satwa tipe Asiatis dengan tipe Peralihan.

  2. Garis Weber: Membentang di sebelah timur Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara, menjadi garis batas keseimbangan faunal antara tipe Peralihan dan tipe Australis.

Prinsip keilmuan yang memetakan pola sebaran hewan di permukaan bumi ini disebut zoogeografi. Pola isolasi laut dalam inilah yang menjawab mengapa Orangutan Sumatra, Jalak Bali, Anoa, Komodo, dan Cenderawasih Merah menempati wilayah pulau yang terpisah.

Oleh karena itu, Opsi D adalah jawaban yang benar karena secara utuh dan tepat mengaitkan variasi lokasi sebaran kelima spesies tersebut dengan pengaruh pembagian zona zoogeografi oleh Garis Wallace dan Garis Weber.