Biaya Tersembunyi di Balik Laba Usaha
Dua Kacamata: Akuntan vs Ekonom
Pernahkah kamu berpikir bahwa biaya itu cuma soal uang yang keluar dari dompet? Kalau iya, wajar banget! Kebanyakan orang sehari-hari memang melihat biaya dari kacamata ini. Tapi, dalam dunia bisnis dan ilmu ekonomi, ada dua kacamata berbeda untuk melihat sebuah pengorbanan saat menjalankan usaha.

Krux atau rahasianya di sini: dalam menjalankan bisnis, tidak semua pengorbanan itu melibatkan uang tunai yang berpindah tangan. Waktu, tenaga, atau barang pribadi yang kamu pakai untuk bisnismu sendiri juga merupakan bentuk pengorbanan karena kamu tidak bisa lagi memakainya untuk hal lain.
Siapa yang memiliki sudut pandang berikut saat menghitung biaya produksi sebuah bisnis?
- Hanya menganggap sesuatu sebagai biaya jika ada uang tunai yang berpindah tangan. — Akuntan
- Memperhitungkan waktu yang dipakai pemilik usaha sebagai bagian dari biaya produksi. — Ekonom
Bagi akuntan, biaya harus berupa uang nyata yang bisa dicatat di pembukuan. Sedangkan ekonom melihat biaya sebagai nilai dari alternatif terbaik yang dikorbankan, entah itu berupa uang atau bukan.
Akuntan mencatat aliran uang (kas), sedangkan ekonom memperhitungkan semua biaya peluang (opportunity cost).
Biaya Eksplisit: Bukti di Atas Kertas
Mari kita bedah dulu jenis biaya yang paling gampang dikenali: Biaya Eksplisit.
Biaya eksplisit adalah biaya yang benar-benar melibatkan arus uang keluar dari kas perusahaan ke pihak lain. Ini adalah pengeluaran yang pasti dicatat oleh seorang akuntan di dalam laporan keuangannya karena wujudnya nyata dan bisa dibuktikan.
Contoh yang sering banget muncul:
Membeli mesin produksi atau komputer
Membayar tagihan listrik dan internet
Membeli bahan baku dagangan
Menggaji karyawan yang dipekerjakan
Semua contoh di atas membutuhkan uang yang nyata (out-of-pocket costs). Tidak ada uangnya, transaksinya batal!
Biaya Implisit: Pengorbanan Segala Aset
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang sering bikin orang bingung. Ketika membahas pengorbanan yang tidak ada kuitansinya (biaya implisit), banyak yang mengira ini cuma berlaku untuk waktu dan tenaga manusia. Memang betul, kalau kamu resign dari pekerjaan bergaji tinggi demi buka usaha, gaji yang hilang itu adalah biaya peluang alias biaya implisit.
Tapi, konsep ini juga berlaku untuk barang, modal, dan properti fisik!

Misalnya, kamu buka warung dan buat kulakan barang kamu pakai mobil pribadi milikmu. Mungkin bensinnya beli (biaya eksplisit), tapi keausan mobil dan hilangnya kesempatan untuk menyewakan mobil itu ke orang lain adalah biaya implisit. Mobil itu tidak gratis!
Begitu juga kalau kamu pakai modal uang dari tabungan sendiri sebesar Rp100 juta. Meski kamu tidak meminjam ke bank (bebas bunga utang), kamu kehilangan bunga deposito dari uang Rp100 juta itu seandainya kamu diamkan di bank. Bunga yang hilang = biaya implisit. Intinya: apapun aset pribadi yang dipakai usaha, pasti punya biaya peluang.
Budi menggunakan sebidang tanah warisan miliknya untuk berkebun sayur. Ia tidak perlu membayar uang sewa sepeser pun. Namun, sebenarnya ada tetangganya yang bersedia menyewa tanah itu seharga Rp10.000.000 per tahun. Secara ilmu ekonomi, nilai Rp10.000.000 ini disebut apa?
- A. Biaya eksplisit, karena aset berupa tanah punya nilai jual yang nyata.
- B. Biaya implisit, karena ia kehilangan potensi uang sewa dari petani lain jika tanah itu ia sewakan.
- C. Bukan biaya sama sekali, karena Budi berhak penuh memakai tanah warisannya secara gratis.
- D. Biaya eksplisit, karena Budi harus tetap membayar pajak bumi dan bangunan (PBB).
Jawaban: B. Biaya implisit, karena ia kehilangan potensi uang sewa dari petani lain jika tanah itu ia sewakan.
Walaupun tidak ada uang yang dibayarkan Budi untuk menyewa tanah, secara ekonomi Budi mengorbankan pendapatan (uang sewa) dari orang lain demi memakai tanah itu sendiri. Pendapatan yang melayang ini adalah biaya implisit (biaya peluang).
Biaya implisit mencakup potensi pendapatan yang hilang dari aset pribadi yang digunakan untuk usaha, bukan hanya tenaga.