Konservasi & Klasifikasi Ekologi

Beda Fisik, Belum Tentu Beda Gen

Variasi bentuk fisik pada makhluk hidup bisa terjadi murni karena respons terhadap lingkungan, bukan karena perbedaan alel bawaan.

Dua pot tanaman dari klon yang sama tumbuh dengan bentuk fisik berbeda karena pengaruh lingkungan.

Keanekaragaman genetik yang sesungguhnya menuntut adanya perbedaan susunan basa nitrogen pada molekul DNA, yaitu variasi alel (varian bentuk alternatif dari suatu gen) antarindividu. Namun, tumbuhan memiliki kemampuan luar biasa yang disebut plastisitas fenotipik, yakni kapasitas satu genotipe untuk memunculkan fenotipe fisik, morfologi, atau fisiologi yang berbeda ketika dihadapkan pada gradien lingkungan yang berlainan.

Sebagai contoh, jika anakan dari satu pohon induk mangrove yang identik secara genetik ditanam di dua tempat berbeda—satu di muara sungai dengan salinitas rendah dan satu di tepi laut terbuka dengan salinitas sangat pekat—kedua anakan tersebut akan menunjukkan penampakan fisik serta tingkat toleransi garam yang berbeda. Pohon di tempat yang sangat asin akan beradaptasi dengan memproduksi daun lebih tebal, mempersempit bukaan stomata, dan mengatur tekanan osmotik sel.

Dua tanaman selada air dibiakkan dari satu klon yang sama persis (genetik identik). Ketika ditanam pada kondisi berbeda, tanaman di habitat darat memiliki daun tebal, sedangkan tanaman di habitat air memiliki daun tipis memanjang menyerupai pita. Fenomena apa yang paling tepat menjelaskan perbedaan bentuk daun kedua tanaman tersebut?

  • Terjadinya mutasi genetik yang cepat pada saat ditanam di lingkungan darat.
  • Plastisitas fenotipik akibat respons tanaman terhadap lingkungan yang berbeda.
  • Keanekaragaman genetik berupa variasi alel yang terekspresikan secara dominan.
  • Proses seleksi alam yang melenyapkan gen daun pita pada populasi daratan.

Jawaban: Plastisitas fenotipik akibat respons tanaman terhadap lingkungan yang berbeda.

Karena kedua tanaman berasal dari klon yang identik secara genetik (memiliki alel yang sama persis), perbedaan bentuk daun murni dipicu oleh plastisitas fenotipik. Organisme dapat mengubah ciri fisik dan fisiologinya untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar tanpa terjadi perubahan pada susunan DNA-nya. Mutasi atau seleksi alam tidak bekerja secara instan pada individu yang sama.

Kemampuan membedakan variasi akibat plastisitas fenotipik versus variasi akibat perbedaan alel.

Konservasi In Situ Paling Efisien

Menjaga habitat asli suatu ekosistem secara utuh adalah metode paling efisien untuk melestarikan semua level keanekaragaman hayati sekaligus.

Akar tunjang vegetasi mangrove di habitat pesisir alami Gambar: Hans Hillewaert, CC BY-SA 3.0 — Wikimedia Commons

Secara umum, strategi perlindungan hayati terbagi menjadi dua:

  1. Konservasi in situ: Pelestarian flora dan fauna langsung di dalam habitat aslinya (misalnya cagar alam, taman nasional, dan kawasan konservasi perairan).

  2. Konservasi ex situ: Pelestarian makhluk hidup dengan memindahkannya ke luar habitat aslinya ke fasilitas buatan manusia (misalnya kebun raya, arboretum, atau bank benih).

Meskipun konservasi ex situ penting untuk penyelamatan darurat materi genetik tertentu, metode ini membutuhkan biaya operasional yang sangat besar, fasilitas khusus, dan rentan kehilangan interaksi ekologis alami. Sebaliknya, konservasi in situ jauh lebih komprehensif. Melindungi bentang alam pesisir dari ancaman polusi industri berarti menjaga iklim mikro, siklus rantai makanan, serta keterhubungan timbal balik antara hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang.

Inilah alasan mengapa kebijakan tim konservasi pesisir pada Opsi B bernilai benar. Menjaga ekosistem pesisir secara utuh adalah cara paling efisien untuk melindungi keanekaragaman spesies dan keanekaragaman genetik secara simultan.

Pemerintah berencana menyelamatkan populasi harimau sumatra yang menurun drastis akibat ancaman deforestasi dan perburuan liar. Upaya konservasi manakah yang paling efisien untuk melindungi keanekaragaman genetik harimau sekaligus populasi spesies mangsanya?

  • Membawa seluruh sisa populasi harimau ke kebun binatang pusat di kota.
  • Menyimpan sampel sel dan sperma harimau di laboratorium genetik internasional.
  • Menetapkan kawasan hutan habitat asli mereka sebagai taman nasional yang dijaga ketat.
  • Mengisolasi pasangan harimau jantan dan betina di fasilitas penangkaran buatan.

Jawaban: Menetapkan kawasan hutan habitat asli mereka sebagai taman nasional yang dijaga ketat.

Menetapkan kawasan habitat asli sebagai taman nasional merupakan metode konservasi in situ. Upaya ini paling efisien karena melindungi harimau, keragaman genetik populasinya, spesies mangsa, serta seluruh jaring makanan dalam satu kesatuan bentang alam secara alami tanpa biaya pemeliharaan buatan yang sangat tinggi layaknya ex situ.

Efisiensi dan jangkauan dari metode konservasi in situ.

Batas Aturan Spesies Biologis

Banyak tumbuhan berbeda spesies yang mampu berhibridisasi dan menghasilkan keturunan fertil, sehingga Konsep Spesies Biologis tidak berlaku kaku pada tumbuhan.

Dua spesies tumbuhan berkerabat melakukan persilangan menghasilkan tanaman hibrida subur di zona transisi.

Berdasarkan Konsep Spesies Biologis yang dirumuskan Ernst Mayr, spesies didefinisikan sebagai kelompok populasi alami yang saling kawin silang dan terisolasi secara reproduktif dari kelompok lain, sehingga menghasilkan keturunan yang fertil (subur). Konsep ini bekerja dengan sangat baik pada hewan tingkat tinggi, di mana barier isolasi reproduksi pascazigotik biasanya tegas (misalnya persilangan kuda dan keledai yang menghasilkan bagal yang steril).

Namun, dunia tumbuhan menyuguhkan cerita yang berbeda. Tumbuhan memiliki batas genetik yang jauh lebih longgar. Pada genus mangrove seperti Rhizophora, hibridisasi alami antardua spesies berbeda kerap terjadi di alam liar dan anakan persilangannya dapat bersifat fertil serta mampu melakukan backcross (silang balik).

Dengan demikian, pernyataan pada Opsi C bernilai salah, karena kemampuan menghasilkan anakan fertil pada tumbuhan tidak otomatis menggugurkan status taksonomi mereka sebagai spesies terpisah.