Ancaman Tradisional: Dari Doktrin ke Trik TWK

Doktrin Kemhan: Tradisional = Militer

Waktu mendengar kata "ancaman tradisional", apa yang langsung muncul di kepalamu? Mungkin kamu membayangkan ancaman zaman dulu yang masih menggunakan bambu runcing atau pedang, sementara "non-tradisional" adalah ancaman modern seperti hacker atau cyber war. Sayangnya, ini miskonsepsi yang sering bikin peserta SKD terkecoh!

Dalam kacamata Kementerian Pertahanan (berdasarkan Buku Putih Pertahanan Indonesia), istilah ancaman tradisional itu adalah sinonim resmi dari ancaman militer. Tolok ukurnya sama sekali bukan soal kuno atau modern, tapi bentuk kekuatannya.

Sebuah ancaman mutlak disebut tradisional (militer) kalau dia punya tiga syarat wajib: menggunakan kekuatan bersenjata, terorganisir, dan bisa menghancurkan kedaulatan serta keutuhan wilayah negara secara fisik. Makanya, invasi (pasukan negara asing masuk ke wilayah kita) dan agresi (serangan militer langsung) adalah bentuk paling murni dari ancaman tradisional.

Mitos: Militer Harus dari Luar Negeri

ilustrasi

Sekarang, kalau invasi dan agresi itu sudah pasti ancaman tradisional (militer), gimana dengan perang saudara atau pemberontakan bersenjata? Bukannya itu dari dalam negeri sendiri?

Ini jebakan kedua. Banyak yang mengira ancaman militer itu harus datang dari tentara negara asing (eksternal). Padahal, ancaman tradisional tidak diukur dari asal pelakunya, tapi dari penggunaan kekuatan bersenjata massal yang terorganisir.

Pasukan militer bersenjata lengkap beroperasi dalam konflik internal untuk menunjukkan skala ancaman Gambar: Wikimedia Commons, Public domain — Wikimedia Commons

Coba bayangkan sebuah perang saudara. Walaupun pelakunya adalah warga negara sendiri, faksi yang memberontak biasanya terorganisir layaknya militer formal dan memegang alutsista (senjata tempur) berstandar perang. Dampaknya? Sangat masif dan bisa meruntuhkan kedaulatan serta membelah negara dari dalam.

Jadi, ingat pembedaan tegas ini: kriminalitas biasa (seperti perampokan/tawuran) adalah ancaman nirmiliter. Tapi kalau ancaman internalnya sudah berupa pemberontakan bersenjata berskala besar atau perang saudara, itu otomatis naik kelas menjadi ancaman tradisional (militer).

Jebakan Opsi: Mengapa Jawabannya Konflik?

Kalau Invasi, Agresi, dan Perang Saudara sudah fix masuk ancaman tradisional, kita tinggal membedah sisa opsinya: Segregasi dan Konflik untuk mencari pengecualiannya. Kenapa pembuat soal memilih "Konflik"?

Mari kita bedah secara logis. Kata Konflik itu sifatnya sangat luas, netral, dan belum pasti berbahaya secara fisik. Konflik gak melulu pakai senjata, dan belum tentu berujung peperangan. Perdebatan alot antarfraksi di DPR itu konflik. Demo damai mahasiswa itu konflik. Tingkat probabilitasnya untuk langsung "meruntuhkan eksistensi negara" sangat lemah.

Sebaliknya, bagaimana dengan Segregasi? Dalam sosiologi dan soal TWK, segregasi (pemisahan/pengotakan kelompok masyarakat berdasarkan ras, agama, atau etnis secara paksa) dipandang jauh lebih spesifik dan berbahaya. Di mata pembuat soal, segregasi adalah "bom waktu" perusak Bhinneka Tunggal Ika. Ini dipandang sebagai embrio pasti dari kehancuran integrasi nasional (ancaman non-tradisional yang serius).

Jadi, "Konflik" adalah pengecualian yang paling masuk akal karena kepastiannya sebagai ancaman negara adalah yang paling kabur di antara opsi lainnya.