Retorika vs Metafora: Membedah Jebakan Majas SKD

Intuisimu Benar: Ada Metafora di Situ

Waktu baca kalimat "saya adalah penyambung lidah rakyat Indonesia", hal pertama yang mungkin muncul di kepalamu adalah: ini kan perumpamaan langsung, pasti Metafora. Intuisimu sama sekali tidak salah!

Coba kita bedah struktur kata-katanya.

Secara leksikal (pembentukan kata), frasa "penyambung lidah rakyat" adalah sebuah Metafora. Kenapa? Karena majas metafora bekerja dengan cara membandingkan dua hal secara langsung tanpa menggunakan kata penghubung (seperti: bagaikan, laksana, seperti). Di sini, peran seorang tokoh (yang menyuarakan aspirasi) disamakan secara langsung dengan organ fisik "lidah" yang "menyambung" suara.

Nah, kalau secara pembentukan kata ini jelas-jelas metafora, kenapa kunci jawabannya justru Retorika? Apakah pembuat soalnya salah? Tidak juga. Jawabannya ada pada konteks dari mana kalimat ini berasal. Soal ini tidak sekadar menanyakan potongan frasa, melainkan sebuah situasi utuh. Mari kita naik ke tataran kalimat yang lebih luas di halaman berikutnya.

ilustrasi

Berdasarkan pemahamanmu tentang struktur kata, manakah dari kalimat berikut yang murni menggunakan majas Metafora?

  • A. Wajahnya bersinar seperti rembulan.
  • B. Ombak menari-nari di pinggir pantai.
  • C. Ayah adalah tulang punggung keluarga.
  • D. Ia pergi ke pasar, sedangkan saya ke sekolah.

Jawaban: C. Ayah adalah tulang punggung keluarga.

Opsi C membandingkan peran ayah dengan 'tulang punggung' secara langsung (Metafora). Opsi A pakai 'seperti' (Asosiasi), B benda mati seolah hidup (Personifikasi), D bukan perbandingan.

Metafora membandingkan dua hal secara langsung tanpa konjungsi pembanding.

Tataran Lebih Tinggi: Retorika sebagai 'Senjata' Orasi

Coba perhatikan lagi kalimat pengantar di soal: "Sebagaimana presiden... pernah sewaktu melakukan pidato di depan rakyat Indonesia dan berucap..."

Di sinilah kunci pemahamannya. Soal ini tidak sedang menguji analisis kata per kata (mikro), melainkan menguji pemahaman atas gaya bahasa dalam suatu peristiwa komunikasi (makro).

Dalam ilmu bahasa, Retorika bukanlah sekadar "kalimat tanya yang tidak butuh jawaban" (meski itu adalah salah satu jenisnya yang disebut pertanyaan retoris). Secara luas, majas Retorika adalah seni menggunakan bahasa—baik tulisan maupun lisan (pidato)—untuk menciptakan efek persuasi yang menyentuh pikiran, perasaan, atau persepsi audiens.

Ketika seorang orator ulung seperti Bung Karno berdiri di depan ribuan rakyat dan menggelegar berkata, "Saya adalah penyambung lidah rakyat Indonesia!", beliau sedang menggunakan Retorika.

Lalu, apa kabar dengan metafora "penyambung lidah"-nya? Metafora di situ hanyalah alat (batu bata) yang dipakai untuk membangun bangunan besarnya, yaitu Retorika (tujuan persuasif pidatonya). Dalam konteks soal SKD yang memaparkan suasana pidato kebangsaan, fungsi meyakinkan dan menggerakkan massa inilah yang dianggap sebagai efek paling dominan.

Tentukan Benar atau Salah pernyataan mengenai fungsi Retorika di bawah ini!

  • Majas Retorika HANYA berbentuk kalimat tanya yang tidak membutuhkan jawaban. — Salah
  • Sebuah kalimat bisa memiliki tujuan Retorika (persuasi) meskipun di dalamnya mengandung majas Metafora. — Benar
  • Dalam pidato kebangsaan, gaya bahasa digunakan untuk menyentuh pikiran dan perasaan massa (Retorika). — Benar

Retorika tidak selalu berupa pertanyaan (bisa pernyataan pidato). Metafora bisa menjadi komponen di dalam kalimat retorik. Tujuan retorika adalah persuasi dan efek emosional.

Retorika adalah gaya bahasa untuk persuasi dan menyentuh audiens, yang bisa saja menggunakan majas lain (seperti metafora) sebagai alat penyusunnya.

Peta Keluarga Majas: Biar Gak Tertukar

Biar kamu gampang mengklasifikasikan mana yang alat (struktur) dan mana yang tujuan (efek), kita perlu melihat silsilah keluarga besar majas. Majas itu punya "keluarga" masing-masing dengan tugas yang beda-beda.

Seperti yang kamu lihat di atas, Metafora dan Retorika sebenarnya hidup di dua keluarga yang berbeda:

  1. Keluarga Perbandingan (Fokus pada Kiasan) Cabang ini tugasnya mencari analogi atau kemiripan. Kalau kamu menganalisis kata atau frasa, di sinilah tempatnya. Anggotanya: Metafora (langsung), Personifikasi (benda mati jadi hidup), Asosiasi (pakai kata 'seperti').

  2. Keluarga Penegasan (Fokus pada Tujuan/Efek) Cabang ini tugasnya memberikan penekanan makna, emosi, atau meyakinkan pendengar. Kalau kamu menganalisis tujuan sebuah kalimat/pidato, kamu masuk ke sini. Anggotanya: Retorika (persuasi/efek dramatis), Pleonasme (penambahan kata yang sebenarnya gak perlu untuk efek tegas), Klimaks (makin lama makin memuncak).

Insight: Satu kalimat pidato yang utuh (Penegasan/Retorika) sangat mungkin dirangkai dari banyak kiasan (Perbandingan/Metafora). Kalau soal menanyakan tujuan utamanya, pilih penegasannya.