Membongkar Ilusi Kalimat: Diksi Asing vs Nalar Pincang
Diksi Asing BUKAN Berarti Tidak Logis
Pernah nggak kamu baca kalimat yang terasa aneh cuma karena ada satu kata yang nggak pernah kamu dengar? Misalnya di soal tadi, pada Kalimat (3):
"sisa 30% wilayah yang belum terjangkau akan terus diakselerasi pembangunannya."
Wajar kalau otak kita ngerasa kalimat ini "nggak logis" atau "salah". Padahal, kita cuma lagi berhadapan sama kosa kata asing. Di sinilah letak jebakannya! Kata yang sulit atau nggak biasa dipakai sehari-hari itu ibarat 'daging' kalimat. Sedangkan kelogisan adalah 'tulang' (struktur) dari kalimat itu sendiri. Daging yang bentuknya aneh, belum tentu menandakan struktur tulangnya patah.

Mari kita bandingkan Kalimat (3) tadi dengan versi yang lebih 'merakyat':
A (Asli): "Sisa wilayah akan terus diakselerasi pembangunannya." B (Ubah Kata): "Sisa wilayah akan terus dipercepat pembangunannya."
Kalau dibaca pakai kata "dipercepat", nalarnya langsung jalan kan? Pemerintah (sebagai pelaku yang tersirat) akan mempercepat pembangunan di sisa wilayah. Secara makna dan nalar kejadian, ini sangat masuk akal dan bisa terjadi di dunia nyata.
Sekarang, mari kita tes pemahamanmu dengan kuis singkat!
Kenapa kata 'diakselerasi' dalam Kalimat (3) BUKAN bukti bahwa kalimat tersebut tidak logis?
- A. Logika kalimat ditentukan oleh seberapa sering kata-katanya dipakai.
- B. Kata asing merusak susunan subjek dan predikat.
- C. Kata yang asing hanya masalah kosa kata, bukan cacat nalar pada struktur.
- D. Semua kalimat dengan kata asing pasti tidak efektif dan tidak logis.
Jawaban: C. Kata yang asing hanya masalah kosa kata, bukan cacat nalar pada struktur.
Ketidaklogisan berhubungan dengan nalar kejadian, sedangkan kata asing ('daging' kalimat) bisa diganti sinonim tanpa merusak nalar ('tulang' kalimat).
Diksi yang tidak lazim tidak memengaruhi kelogisan kalimat jika struktur dasarnya masuk akal.
Nggak Enak Dibaca vs Nggak Masuk Akal
Kamu sudah tahu bahwa diksi sulit nggak merusak logika. Sekarang, mari kita luruskan kebingungan yang sangat sering muncul: bedanya kalimat tidak efektif (boros) dengan kalimat tidak logis (mustahil/cacat nalar).
Kalimat tidak efektif itu ibarat rute jalan dari titik A ke titik B yang muter-muter. Kamu boros bensin, capek, dan pusing, tapi kamu tetap bisa sampai ke tujuan. Sedangkan kalimat tidak logis itu ibarat rute jalan dari titik A ke B yang menembus tembok baja atau menyeberangi jurang tanpa jembatan. Secara nalar, itu mustahil terjadi di dunia nyata.
Mari kita lihat contoh kontrasnya:
Contoh 1 (Tidak Efektif / Boros) "Bagi para ibu-ibu sekalian dimohon maju ke depan." Kalimat ini boros banget ("para" + "ibu-ibu" + "sekalian", lalu "maju" pasti ke "depan"). Nggak enak dibaca. Tapi coba bayangkan adegannya: orang disuruh melangkah maju. Nalarnya masih bisa dibayangkan, kan? Kejadiannya masuk akal.
Contoh 2 (Tidak Logis / Mustahil) "Waktu dan tempat kami persilakan." Kalimat ini singkat, tapi nalarnya rusak total. Coba bayangkan: masa "waktu" dan "tempat" yang disuruh maju ke podium dan bicara? Pelaku dan tindakannya saling menabrak dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata.
Mesin X-Ray: Membedah S-P-O-K
Ketidaklogisan itu paling sering sembunyi di mana, sih? Jawabannya: di hubungan yang 'berantem' antara Pelaku, Tindakan, dan Tujuannya. Untuk menemukannya, kita butuh alat bernama "Mesin Rontgen Kalimat" (Analisis S-P-O-K).
Sebuah kalimat yang panjang banget sering bikin kita pusing. Cara rontgen-nya: abaikan kata sifat, keterangan waktu/tempat, dan pelengkap yang panjang-panjang. Cari intinya saja: Siapa (Subjek) melakukan apa (Predikat)?

Mari kita rontgen Kalimat (1) dari soal tadi: "Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut ketersediaan jaringan telekomunikasi di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, saat ini telah mencapai 70%."
Kalau kita buang atribut tambahannya, sisa kerangka utamanya adalah: Pemerintah (S) menyebut (P) ketersediaan (O).
Sekarang, cek nalarnya: Apakah masuk akal jika entitas bernama "Pemerintah" melakukan tindakan "menyebutkan" suatu "ketersediaan"? Sangat logis. Pelaku dan tindakannya sejalan. Hubungan S-P-O-K ini sehat walafiat tanpa cacat.
Yuk, coba preteli kalimat lain dengan metode rontgen ini!
Terapkan metode rontgen pada bagian akhir Kalimat (3): '...sisa 30% wilayah yang belum terjangkau akan terus diakselerasi pembangunannya.' Mana inti S-P yang benar?
- A. sisa wilayah (S) - belum terjangkau (P)
- B. sisa wilayah (S) - diakselerasi pembangunannya (P)
- C. Ngurah Adhi (S) - sisa wilayah (P)
- D. sisa wilayah (S) - 30% (P)
Jawaban: B. sisa wilayah (S) - diakselerasi pembangunannya (P)
Inti klausa anak kalimat pada (3) adalah 'sisa wilayah' sebagai subjek, yang akan 'diakselerasi pembangunannya' sebagai predikat. Hubungan ini logis.
Mencari inti logika kalimat dilakukan dengan merontgen kalimat menjadi S-P utamanya.