Elastisitas Pendapatan: Bedanya Normal dan Mewah

Meninggalkan yang Inferior

ilustrasi

Bayangin bulan ini uang jajanmu tiba-tiba naik drastis. Apa yang terjadi dengan kebiasaan jajanmu?

Kamu mungkin bakal langsung ninggalin makan mie instan warung tiap hari buat beralih nongkrong di kafe. Nah, mie instan dalam cerita ini adalah barang inferior. Semakin tebal dompetmu, makin berkurang minatmu buat belinya.

Di sisi lain, kamu jadi lebih sering jajan es boba atau nabung buat checkout baju baru. Barang-barang ini punya hubungan positif dengan isi dompet: saat pendapatan naik, jumlah konsumsinya ikutan naik.

Tantangannya sekarang: dari semua barang yang masuk kubu "normal" ini, mana yang statusnya sekadar 'kebutuhan biasa' dan mana yang tergolong 'barang mewah (superior)'?

Balapan Persentase

Kunci buat memecah kubu barang "normal" menjadi kebutuhan vs barang mewah (superior) itu ada di "balapan persentase" antara kenaikan uang jajan vs kenaikan nafsu belanjamu untuk barang tersebut.

Misal, uang jajanmu naik $20\%$.

Misalkan gaji seseorang naik sebesar $30\%$. Karena merasa lebih mapan, ia meningkatkan anggaran langganan *streaming* filmnya sebesar $15\%$, dan meningkatkan anggaran liburan tahunannya sebesar $50\%$. Dari data "balapan persentase" tersebut, manakah kesimpulan yang tepat?

  • A. Streaming film adalah barang normal, liburan adalah barang superior.
  • B. Streaming film adalah barang inferior, liburan adalah barang normal.
  • C. Keduanya adalah barang superior karena konsumsinya sama-sama meningkat.
  • D. Streaming film adalah barang superior, liburan adalah barang normal.

Jawaban: A. Streaming film adalah barang normal, liburan adalah barang superior.

Kenaikan anggaran streaming (15%) lebih kecil dari kenaikan gaji (30%) sehingga ia tergolong barang normal (kebutuhan). Sebaliknya, anggaran liburan naik melampaui kenaikan gaji (50% > 30%), sehingga masuk kategori superior/mewah.

Barang normal (kebutuhan) persentase kenaikan konsumsinya di bawah kenaikan pendapatan, sedangkan barang superior (mewah) melampaui kenaikan pendapatan.

Membaca Angka Elastisitas

Dalam ekonomi, "balapan persentase" di halaman sebelumnya diukur secara presisi pakai satu angka ukur ukur yang disebut Elastisitas Pendapatan ($E_I$). Rumusnya cuma membagi kedua persentase tadi:

$E_I = \frac{\%\Delta \text{Konsumsi}}{\%\Delta \text{Pendapatan}}$

Angka 1 adalah batas pemisah matematis yang paling penting di sini:

  1. Kebutuhan Normal: Kalau kita pakai contoh kuota internet tadi, $E_I = \frac{10\%}{20\%} = 0,5$. Karena hasilnya berada di antara $0$ dan $1$, barang ini masuk kategori Normal. Pertumbuhan konsumsinya nyantai, gak ngalahin pertumbuhan gaji.

  2. Superior (Mewah): Kalau pakai contoh nongkrong mewah, $E_I = \frac{40\%}{20\%} = 2,0$. Karena hasilnya lebih dari $1$, ia berstatus Superior. Pertumbuhan belanjanya ngebut ngalahin pertumbuhan gaji!

  3. Inferior: Gimana dengan mie instan di awal cerita? Karena konsumsinya justru turun saat gaji naik (arahnya berlawanan), nilai $E_I$-nya pasti negatif (di bawah $0$).

Tentukan apakah pernyataan mengenai pembacaan nilai Elastisitas Pendapatan ($E_I$) berikut ini Benar atau Salah!

  • Jika sebuah barang memiliki nilai $E_I = 1,5$, maka barang tersebut masuk dalam kategori barang superior (mewah). — Benar
  • Jika sebuah barang memiliki nilai $E_I = 0,8$, barang tersebut dikategorikan sebagai barang inferior karena nilainya di bawah angka 1. — Salah
  • Barang inferior pasti memiliki nilai elastisitas pendapatan yang negatif ($E_I < 0$). — Benar

Pernyataan 1 Benar (>1 adalah superior). Pernyataan 2 Salah (0,8 berada di antara 0 dan 1, yang berarti itu adalah kebutuhan normal, bukan inferior). Pernyataan 3 Benar (inferior selalu ditandai dengan Ei negatif).

Pemahaman rentang nilai Elastisitas Pendapatan: Inferior (<0), Normal Kebutuhan (0-1), dan Superior/Mewah (>1).