Antropologi Klasik: Objek vs Metode
Awal Mula Antropologi
Bayangkan kamu hidup di Eropa pada akhir abad ke-19. Saat itu, negara-negara Barat sedang gencar menjelajah dan memperluas wilayah jajahan mereka ke berbagai penjuru dunia. Di situlah mereka bertemu dengan berbagai suku bangsa yang cara hidupnya sangat berbeda—belum ada mesin, pabrik, atau hiruk-pikuk kota modern.
Rasa penasaran untuk memahami dan mendokumentasikan masyarakat yang saat itu mereka anggap sebagai "primitif" atau tradisional inilah yang melahirkan ilmu Antropologi Klasik.
Gambar: Unknown, Public domain — Wikimedia Commons
Berbeda dengan ilmu ekonomi yang cuma peduli soal uang atau pasar, para antropolog awal ini tertarik pada kebudayaan secara utuh. Mereka ingin tahu bagaimana suku-suku di daerah terpencil ini membangun rumah, mengatur keluarga, hingga melakukan ritual kepercayaan.
Antropologi vs Sosiologi: Beda Target
Kalau antropologi klasik meneliti suku-suku terpencil, terus apa bedanya dengan sosiologi yang juga sama-sama meneliti manusia? Kuncinya ada pada siapa yang diteliti.
Pada akhir abad ke-19, Eropa sedang pusing menghadapi dampak Revolusi Industri. Munculnya pabrik-pabrik, kota yang padat, dan masalah kaum buruh memicu lahirnya ilmu Sosiologi. Sosiologi awal fokus membereskan masalah di rumah sendiri alias mengkaji masyarakat industri modern.
Di sisi lain, antropologi klasik lebih suka "keluar rumah". Mereka penasaran dengan orang-orang di luar Eropa yang masih tradisional dan berskala kecil.

Singkatnya:
Sosiologi mengkaji "kita" (masyarakat Barat/modern yang kompleks).
Antropologi Klasik mengkaji "mereka" (masyarakat tradisional/terpencil).
Manakah di bawah ini yang paling mungkin menjadi objek penelitian utama ilmu Sosiologi pada awal perkembangannya di abad ke-19?
- A. Sistem kekerabatan suku terasing di Amazon
- B. Tata cara ritual panen masyarakat tradisional di Papua
- C. Kondisi sosial pekerja pabrik tekstil di London
- D. Cara berburu komunitas nomaden di Afrika
Jawaban: C. Kondisi sosial pekerja pabrik tekstil di London
Sosiologi lahir untuk menjawab masalah di masyarakat modern/industri seperti buruh pabrik (C). Opsi A, B, dan D adalah wilayah kajian antropologi klasik yang secara khusus fokus pada masyarakat sederhana dan terpencil.
Sosiologi klasik mengkaji masyarakat industri modern, sedangkan antropologi mengkaji masyarakat tradisional.
Kenapa Bukan Statistik?
Mengingat antropologi klasik meneliti suku-suku di pedalaman, apakah mungkin mereka menggunakan metode survei atau membagikan angket statistik?
Tentu tidak. Bayangkan seorang antropolog membagikan kertas survei kepada kepala suku di Kepulauan Trobriand yang belum mengenal sistem baca-tulis Barat. Bahasanya saja sudah berbeda! Peneliti sosiologi di kota bisa dengan mudah membagikan angket tertulis kepada buruh pabrik (Kuantitatif), tapi cara ini gagal total kalau diterapkan di pedalaman.
Oleh karena itu, antropologi klasik menggunakan metode Etnografi (kualitatif dan deskriptif). Para antropolog, seperti Bronisław Malinowski, tidak sekadar lewat. Mereka terjun langsung, ikut hidup bersama masyarakat tersebut berbulan-bulan, mencatat apa yang mereka lihat, dan melakukan wawancara lisan.
Mengapa metode survei atau angket statistik tidak cocok digunakan oleh antropolog klasik saat meneliti masyarakat terpencil? Tentukan Benar/Salah untuk tiap alasan berikut.
- Masyarakat terpencil pada umumnya belum mengenal sistem baca-tulis Barat untuk dapat mengisi angket tertulis. — Benar
- Metode statistik tidak dipakai karena antropolog klasik saat itu menggunakan rumus matematika yang lebih kompleks. — Salah
- Kendala perbedaan bahasa dan budaya membuat observasi kehidupan sehari-hari lebih efektif daripada kuesioner. — Benar
Masyarakat terpencil belum mengenal baca-tulis dan bahasanya berbeda, sehingga membagikan angket tertulis tidak berguna (Pernyataan 1 dan 3 Benar). Antropologi klasik juga tidak memakai matematika kompleks, melainkan mengandalkan metode deskriptif kualitatif (Pernyataan 2 Salah).
Masyarakat tradisional belum mengenal budaya baca-tulis dan bahasa Barat, sehingga pendekatan kuantitatif/survei tidak bisa diterapkan.