Menjinakkan Kata Serapan

Jebakan Kata Sehari-hari

ilustrasi

Penulisan kata baku dan kata yang sering kita dengar dalam obrolan harian itu ibarat dua dunia yang berbeda. Lidah kita saat bicara cenderung suka mencari jalan pintas. Kita lebih suka bilang "resiko" ketimbang "risiko", "antri" ketimbang "antre", atau "apotik" ketimbang "apotek" karena pelafalannya terasa lebih ringan.

Dalam ragam tulis formal, apalagi di tes TWK, acuan utamanya adalah asal mula kata tersebut diserap. Contohnya kata risiko. Kata ini diserap dari bahasa Belanda risico (atau Inggris risk). Karena kata asalnya memakai huruf 'i', maka ejaan baku dalam bahasa Indonesia harus mempertahankan huruf aslinya menjadi risiko, bukan resiko.

Mulai sekarang, pisahkan antara "yang enak didengar" dengan "yang sesuai aturan kamus"!

Menurutmu, apa alasan utama kenapa kita sering terkecoh menulis 'antri', 'apotik', dan 'resiko' seolah-olah itu adalah kata yang baku?

  • A. Karena aturan bahasa Indonesia mengharuskan semua ejaan disesuaikan dengan bahasa Inggris aslinya.
  • B. Karena kata-kata tersebut diambil utuh dari bahasa daerah tanpa penyesuaian ejaan.
  • C. Karena bahasa lisan dalam percakapan sehari-hari cenderung mencari pelafalan yang paling gampang dan ringan.
  • D. Karena kamus resmi baru saja merevisi ejaan kata-kata tersebut secara acak.

Jawaban: C. Karena bahasa lisan dalam percakapan sehari-hari cenderung mencari pelafalan yang paling gampang dan ringan.

Lidah kita cenderung mencari pengucapan yang paling ringan (seperti mengganti 'i' menjadi 'e' pada 'resiko', atau kebalikannya pada 'antri'). Padahal, ejaan resmi merujuk pada kata aslinya.

Kata yang terasa familiar di percakapan lisan belum tentu merupakan bentuk baku dalam ragam tulis, karena bahasa lisan cenderung memilih pelafalan yang paling mudah.

Rumus Serapan 1: *-lysis* jadi *-lisis*

Rumus Serapan 1: -lysis jadi -lisis

Pernah bingung kenapa penulisannya harus analisis, padahal di berita atau obrolan kantoran orang sering menyebutnya "analisa"? Jawabannya ada pada rumus baku penyerapan akhiran asing.

Bahasa Indonesia punya patokan tegas buat kata serapan. Kalau sebuah kata benda dalam bahasa asalnya berakhiran -lysis (Inggris) atau -lyse (Belanda), maka saat diindonesiakan akhirannya punya satu rumus wajib: berubah jadi -lisis.

Jadi, kamu tidak perlu lagi menebak-nebak bunyinya. Hafalkan saja rumus patennya: setiap ketemu akhiran -lysis, pasti jadi -lisis!

Tentukan apakah pernyataan berikut mengenai penyerapan kata berakhiran -lysis/-lyse ini Benar atau Salah!

  • Kata 'paralisa' adalah bentuk baku dari paralysis karena mengikuti pola penyerapan kata 'analisa'. — Salah
  • Bentuk baku dari kata asing 'dialyse' di dalam bahasa Indonesia adalah dialisis. — Benar

'Paralisa' tidak baku karena bentuk aslinya paralysis diserap jadi paralisis (seperti analysis -> analisis). Sementara dialyse diserap jadi dialisis.

Kata berakhiran bahasa asing -lysis atau -lyse selalu diserap menjadi -lisis.

Rumus Serapan 2: *-ic* / *-isch* jadi *-is*

Rumus Serapan 2: -ic / -isch jadi -is

Aturan serapan berikutnya khusus berlaku untuk kata sifat yang mendeskripsikan sesuatu.

Kalau kamu menemukan kata sifat asing yang berakhiran -ic (dalam bahasa Inggris) atau -isch (dalam bahasa Belanda), maka bentuk serapannya di bahasa Indonesia langsung disederhanakan menjadi akhiran -is.

Berdasarkan rumus penyerapan kata sifat, bagaimana bentuk baku yang tepat dari kata bahasa Inggris 'pragmatic' atau Belanda 'pragmatisch'?

  • A. Pragmatik
  • B. Pragmatika
  • C. Pragmatis
  • D. Pragmatisa

Jawaban: C. Pragmatis

Kata 'pragmatic' adalah kata sifat (adjektiva). Sesuai rumus, akhiran -ic/-isch untuk kata sifat diserap menjadi -is, sehingga bentuk bakunya adalah 'pragmatis'. (Akhiran -ik biasanya untuk kata benda/ilmu seperti linguistik).

Kata sifat dari bahasa asing berakhiran -ic (Inggris) atau -isch (Belanda) selalu diserap menjadi akhiran -is.