Membongkar Jebakan Majas: Simile vs Hiperbola

Jebakan Angka 300 Tahun

Kamu mungkin langsung terpikir bahwa jawaban soal ini adalah Hiperbola. Kenapa? Karena perbandingan antara dijajah 3 tahun dengan 300 tahun jelas merupakan hal yang sangat melebih-lebihkan kenyataan (hiperbolis). Secara naluriah, otak kita terfokus pada angka ekstrem tersebut.

Namun, dalam menganalisis majas di soal ujian, kita tidak boleh hanya berfokus pada makna "lebay" dari kalimat tersebut. Kita harus melihat kalimat secara utuh, terutama pada struktur atau kata tugas yang digunakan.

Coba perhatikan lagi potongan kalimat soal: "...Jepang menjajah seakan-akan selama 300 tahun...".

Ada sebuah kata yang sangat penting yang sering terlewatkan: "seakan-akan". Kata ini berfungsi sebagai jembatan yang secara eksplisit (langsung) membandingkan dua keadaan yang berbeda (masa penjajahan yang nyata vs masa yang dirasakan). Karena ada kata jembatan ini, kalimat tersebut bukanlah hiperbola murni.

Rumus Analisis: Struktur > Makna

Jika kamu sering bingung membedakan majas di soal UTBK atau Kedinasan, ada satu rumus ampuh: Struktur lebih utama daripada Makna.

Dalam bahasa Indonesia, jika sebuah kalimat memiliki struktur pembanding yang eksplisit (ada kata kuncinya), maka kalimat itu otomatis dikategorikan sebagai Simile (atau Asosiasi), tidak peduli seberapa "lebay" atau hiperbolis makna di dalamnya.

Simile adalah majas yang membandingkan dua hal berbeda secara langsung. Kata kunci wajib untuk majas ini adalah: seperti, bagai, bagaikan, bak, laksana, seakan-akan, atau umpama.

Jadi, saat ketemu soal majas, biasakan untuk melakukan pengecekan berjenjang. Cari kata kunci pembanding ini terlebih dahulu. Jika kamu menemukan kata seperti "seakan-akan", kamu bisa langsung mengunci jawabanmu sebagai Simile.

Kalimat 'Dia menangis tersedu-sedu seperti mengeluarkan air mata darah' termasuk dalam majas apa?

  • A. Simile
  • B. Hiperbola
  • C. Metafora
  • D. Personifikasi

Jawaban: A. Simile

Meskipun tangisan darah adalah hal yang mustahil (lebay/hiperbolis), adanya kata pembanding 'seperti' membuat kalimat ini dikategorikan sebagai Simile.

Simile menggunakan kata pembanding eksplisit, mengabaikan makna hiperbolisnya.

Tabel Beda Simile & Hiperbola

Untuk lebih meyakinkan, mari kita bandingkan Simile dan Hiperbola secara berdampingan. Kalau kamu tipe orang yang suka melihat perbedaan lewat struktur dan kata kunci, tabel ini bakal ngebantu banget.

Hiperbola murni membesar-besarkan keadaan tanpa menggunakan kata perbandingan eksplisit. Artinya, tidak ada kata "seperti" atau "bagai" di dalamnya.

Mari kita ubah kalimat soal tadi menjadi hiperbola murni: "Jepang telah menjajah kita selama 300 tahun lamanya!"

Lihat bedanya? Tanpa kata "seakan-akan", kalimat itu menjadi hiperbola murni karena langsung melebih-lebihkan fakta (3 tahun menjadi 300 tahun) tanpa jembatan perbandingan.

Manakah dari kalimat berikut yang merupakan contoh majas Hiperbola murni? (Pilih semua yang benar)

  • Rasa sakitnya bagaikan ditusuk ribuan pedang.
  • Suaranya menggelegar memecahkan gendang telingaku.
  • Keringatnya membanjiri seluruh lapangan ini.
  • Wajahnya bersinar seperti matahari pagi.

Jawaban: Suaranya menggelegar memecahkan gendang telingaku.; Keringatnya membanjiri seluruh lapangan ini.

Pernyataan 1 dan 4 mengandung kata 'bagaikan' dan 'seperti', sehingga masuk kategori Simile. Pernyataan 2 dan 3 adalah Hiperbola murni karena melebih-lebihkan tanpa kata pembanding.

Hiperbola murni tidak menggunakan kata pembanding (seperti/bagai).