Mendeteksi Sikap Penulis di Teks Sains

Fakta Alam vs Suara Penulis

Pernah nggak sih kamu baca teks tentang bencana alam yang dampaknya destruktif banget, terus kamu ngerasa ngeri atau cemas? Nah, pas ditanya "Apa pandangan penulis?", banyak yang langsung milih opsi yang menggambarkan perasaan ngeri/cemas tadi. Padahal, emosi yang kita rasakan saat membaca belum tentu sama dengan sikap penulisnya.

Di dalam teks sains atau akademis (seperti klimatologi dan cuaca ekstrem), penulis biasanya memaparkan rentetan fakta objektif sebagai premis. Di soal tadi, penjelasan tentang curah hujan, penguapan, dan suhu global (kalimat 2-8) murni adalah sekumpulan data. Penulis mengutip fenomena alam ini bukan untuk ikut-ikutan panik, melainkan untuk membangun dasar argumen rasionalnya.

Lalu, di mana letak suara penulis (author's voice)? Suara penulis justru tidak bersembunyi di balik angka-angka tersebut. Pandangan aslinya baru muncul di bagian evaluasi atau kesimpulan, yaitu pada bagaimana ia membingkai respons terhadap fakta-fakta tadi di ujung argumen (sering kali di kalimat pertama atau terakhir paragraf).

Berdasarkan konsep pemisahan antara Data Objektif dan Suara Penulis, manakah pernyataan berikut yang PALING TEPAT?

  • A. Rentetan fakta selalu mencerminkan sikap emosional penulis.
  • B. Jika sebuah teks menyajikan data bencana yang mengerikan, penulisnya otomatis bersikap cemas.
  • C. Pandangan penulis umumnya muncul sebagai evaluasi atau tawaran solusi di akhir argumen.
  • D. Suara penulis biasanya tersembunyi di dalam persentase atau angka-angka statistik.

Jawaban: C. Pandangan penulis umumnya muncul sebagai evaluasi atau tawaran solusi di akhir argumen.

Data adalah premis objektif. Sikap penulis baru terlihat dari bagaimana ia menyimpulkan atau merespons data tersebut di kalimat-kalimat yang bersifat evaluatif (opini/rekomendasi).

Suara penulis atau pandangan asli penulis berada di bagian kesimpulan atau evaluasi (sebagai respons), bukan di dalam deretan data atau fakta.

Bedah Linguistik: Mencari Jejak Opini

Karena teks sains dituntut untuk seobjektif mungkin, sikap penulis biasanya tersirat secara halus melalui jejak-jejak linguistik. Kita bisa membedah pola kalimatnya lewat pilihan kata (diksi) khusus yang disebut penanda opini atau stance markers.

Ada tiga komponen linguistik yang bisa kamu jadikan radar:

  1. Adjektiva (Kata Sifat) Evaluatif: Penulis memilih kata seperti vital, ekstrem, dan mematikan. Ini adalah penilaian teknis yang menunjukkan tingkat bahaya (kewaspadaan tinggi), bukan ekspresi emosi atau keputusasaan.

  2. Konjungsi Penanda Wacana: Kata "Oleh karena itu" di kalimat 9 adalah jembatan emas. Ini adalah discourse marker sentral yang memisahkan area "ini faktanya" menuju "ini kesimpulan dan opiniku".

  3. Modalitas: Di kalimat terakhir, muncul frasa "sangat diperlukan". Dalam linguistik, ini disebut modalitas deontik (menyatakan keharusan). Ini bukti telak bahwa penulis tidak sekadar pasrah melihat badai, tapi secara aktif dan logis mendorong tindakan pencegahan.

ilustrasi

Tentukan apakah unsur linguistik berikut merupakan jejak dari 'Opini' penulis atau murni 'Fakta' objektif!

  • Penggunaan kata 'vital' dan 'mematikan' untuk mendeskripsikan fenomena badai. — Opini
  • Klaim bahwa setiap kenaikan suhu global 1°C menyebabkan atmosfer menampung 7% lebih banyak uap air. — Fakta
  • Frasa 'sangat diperlukan' di bagian akhir teks. — Opini
  • Penggunaan kata 'Oleh karena itu' sebelum memberikan simpulan akhir. — Opini

Kalimat 2 hanyalah data klimatologis. Kalimat 1, 3, dan 4 mengandung kata sifat evaluatif, konjungsi penyimpulan, dan modalitas yang menunjukkan campur tangan pandangan si penulis.

Sikap penulis dapat dilacak melalui adjektiva evaluatif, modalitas keharusan, dan konjungsi penanda wacana kesimpulan.

Emosi vs Logika: Cemas vs Hati-hati

Waktu ngerjain soal tadi, kamu sempat ragu antara 'Agak berhati-hati' atau 'Sedikit cemas', kan? Keduanya memang seolah mirip karena sama-sama merespons sebuah ancaman (bencana siklon). Tapi di dunia UTBK SNBT, ada garis batas yang tegas antara respons emosional dan rasional.

Cemas adalah respons afektif atau emosional batiniah. Kalau seorang penulis cemas, fokusnya ada pada rasa takut itu sendiri. Jejak bahasanya akan penuh dengan kata-kata yang subjektif-emosional seperti "sangat mengkhawatirkan", "menakutkan", atau seolah mengekspresikan keputusasaan tanpa solusi konkret.

Sebaliknya, Hati-hati (cautious) adalah respons analitis dan rasional. Penulis yang berhati-hati menyadari tingkat bahaya, mengukurnya dengan logis, lalu yang terpenting: menawarkan langkah antisipasi. Di soal kita, alih-alih meratap ketakutan, penulis justru menyarankan: "Penyesuaian sistem peringatan dini sangat diperlukan". Memberikan saran perbaikan sistem adalah tindakan rasional tertinggi dari sebuah sikap kehati-hatian.

Tentukan apakah sikap penulis dalam skenario berikut lebih condong ke respons 'Cemas' atau 'Hati-hati'!

  • Penulis memaparkan data potensi bahaya badai lalu merekomendasikan perbaikan sistem peringatan dini. — Hati-hati
  • Penulis menggunakan kata 'sangat mengerikan' secara berulang tanpa menawarkan langkah pencegahan apa pun. — Cemas
  • Penulis secara sistematis menyarankan agar masyarakat mulai waspada terhadap volume hujan, bukan hanya angin. — Hati-hati
  • Penulis mengungkapkan perasaan bahwa bencana ke depannya akan jauh di luar kendali umat manusia. — Cemas

Respons 'Hati-hati' selalu dibarengi dengan usulan tindakan logis berdasarkan data, sementara respons 'Cemas' terfokus pada rasa takut atau keputusasaan personal penulis.

Cemas bersifat emosional tanpa jalan keluar yang pasti, sedangkan Hati-hati bersifat rasional dan berujung pada tindakan antisipatif/preventif.