Akar Kata Baku: Misteri '-is' & Konteks Nyata
Ilusi 'Terdengar Benar'
Pernah dengar kalimat ini? "Sekedar info, hirarki di kantor ini sangat ketat, lho."
Kalimat di atas mungkin terasa sangat normal dan "terdengar benar" di telinga kita. Wajar saja, dalam percakapan sehari-hari, kita sering memotong atau menyederhanakan pelafalan agar lebih cepat diucapkan. Tapi, di sinilah ilusi itu terjadi: sesuatu yang sering diucapkan belum tentu benar secara ejaan baku tulisannya.
Mari kita bedah kenapa insting telinga kita bisa menipu.
Kasus 1: "Sekedar" vs "Sekadar" Kesalahan "sekedar" terjadi karena kita mengira kata dasarnya adalah "kedar". Padahal, dalam bahasa Indonesia tidak ada kata "kedar". Akar kata yang benar berasal dari bahasa Arab miqdār yang diserap menjadi kadar (artinya ukuran, nilai, atau takaran). Jika kita tambahkan awalan se-, rumus logisnya adalah: se- + kadar = sekadar (artinya: sesuai ukurannya / hanya untuk).
Kasus 2: "Hirarki" vs "Hierarki" Kata ini diserap dari bahasa Inggris hierarchy. Aturan penyerapan kata asing ke dalam bahasa Indonesia (berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia/PUEBI) sangat ketat dalam mempertahankan gabungan huruf vokal aslinya jika memungkinkan. Diftong 'ie' pada hierarchy tidak boleh dihilangkan atau disederhanakan hanya karena kita malas melafalkannya. Jadi, ejaan yang dipertahankan adalah hierarki.
Jebakan Kata 'Teoritis'
Di tahap diagnosa, kamu sempat memilih opsi yang mengandung kata 'teoritis'. Tenang, kamu tidak sendirian! Ini adalah salah satu jebakan paling menjebak di soal PBM.
Kenapa kita sering terkecoh menulis 'teoritis'? Karena otak kita mencoba mencari pola sendiri. Kita berpikir: "Oh, kata dasarnya adalah Teori, lalu tinggal ditambah akhiran -tis biar jadi kata sifat."
Sayangnya, bahasa Indonesia tidak punya aturan pembentukan akhiran '-tis' yang bisa ditempel-tempel seenaknya ke kata benda (nomina).
Lalu dari mana asal kata baku yang benar? Jawabannya ada pada akar kata sifatnya di bahasa asing!
Bahasa Indonesia jarang memodifikasi kata bendanya sendiri untuk membentuk kata sifat baru; kita menyerap langsung dari bentuk kata sifat (adjektiva) bahasa aslinya.
Bahasa Inggris: Theoretical
Bahasa Belanda: Theoretisch
Perhatikan huruf 'e' yang ada di tengah kata tersebut. Saat diserap ke dalam KBBI secara utuh, huruf 'e' itu wajib dipertahankan. Itulah sebabnya, bentuk yang baku dan diakui secara morfologi adalah teoretis, bukan teoritis!
Berdasarkan analisis alur penyerapan, apa alasan utama mengapa bentuk 'teoritis' dianggap salah?
- A. Kata 'teori' adalah kata tidak baku dari 'teore'
- B. Bahasa Indonesia tidak memiliki aturan pembentukan kata sifat dengan menempelkan akhiran '-tis' pada kata benda
- C. Pengucapan 'teoritis' terlalu sulit bagi lidah orang Indonesia
- D. Kata tersebut diserap dari bahasa Arab, bukan bahasa Inggris atau Belanda
Jawaban: B. Bahasa Indonesia tidak memiliki aturan pembentukan kata sifat dengan menempelkan akhiran '-tis' pada kata benda
Kesalahan 'teoritis' terjadi karena mengira rumusnya adalah 'Teori' + '-tis'. Padahal, bahasa Indonesia menyerap langsung kata sifat secara utuh dari bahasa aslinya (theoretical/theoretisch) yang mengandung huruf 'e', menjadi teoretis.
Penyebab kata 'teoritis' salah adalah karena kita sembarangan menempelkan akhiran '-tis' pada kata benda bahasa Indonesia, padahal seharusnya menyerap langsung dari kata sifat bahasa aslinya.
Mengenali Pola Akhiran '-is'
Sekarang kamu sudah tahu rahasia di balik kata 'teoretis'. Kerennya, pemahaman (konsep) ini bukan cuma berlaku buat satu kata itu saja. Kamu bisa pakai alat ini untuk membongkar soal-soal jebakan lainnya!
Kuncinya: Selalu kembali ke bentuk kata sifat dalam bahasa aslinya (Inggris/Belanda).

Mari kita buktikan di kata-kata lain yang sering bikin ragu:
1. Hipotesis vs Hipotetis
Konteks salah: "Secara hipotesis, hal itu bisa terjadi." (Orang mengira ini kata sifat, padahal hipotesis adalah kata benda / hypothesis).
Bukti serapan: Kata sifatnya dalam bahasa Inggris adalah hypothetical.
Kesimpulan: Maka kata sifat bakunya di Indonesia adalah hipotetis.
2. Praktik vs Praktis
Konteks: "Cara ini sangat praktis."
Bukti serapan: Bentuk aslinya practical.
Kesimpulan: Diserap menjadi praktis.
Berdasarkan trik melihat kata sifat bahasa Inggris, jika sebuah pabrik menggunakan bahan buatan (bukan alami), kata serapan baku apa yang paling tepat untuk mendeskripsikan bahan tersebut?
- A. Sintetis, karena berasal dari Sintesa + tis
- B. Sintesis, karena merupakan variasi pelafalan dari Sintesa
- C. Sintetis, karena diserap langsung dari kata sifat bahasa Inggris 'synthetic'
- D. Sintetis, karena terdengar lebih enak diucapkan dibanding sintesis
Jawaban: C. Sintetis, karena diserap langsung dari kata sifat bahasa Inggris 'synthetic'
Gunakan trik detektif! Kata bendanya adalah 'sintesis' (synthesis). Kata sifatnya dalam bahasa Inggris adalah 'synthetic'. Maka, jika diserap menjadi kata sifat bahasa Indonesia, bentuk bakunya adalah 'sintetis'.
Menentukan kata baku akhiran '-is'/'tis' dengan melihat bentuk asli kata sifat dalam bahasa Inggris.