Logika Wacana: Beda 'Gak Nyambung' dan 'Gak Baku'

Tongkrongan dan Aturan Ngobrol

Pernah nggak kamu lagi asyik nongkrong bareng teman-teman, ngomongin suatu topik dengan seru, lalu tiba-tiba ada satu orang yang nyeletuk hal lain yang sama sekali nggak nyambung?

ilustrasi

Dalam soal SNBT Pengetahuan dan Pemahaman Umum (PPU), kesalahan kalimat sering bikin bingung karena istilahnya mirip-mirip. Biar gampang, ingat analogi tongkrongan ini:

Soal PPU tentang "kalimat tidak logis pada bacaan" sebenarnya sedang meminta kita menjadi satpam tongkrongan: mencari mana teman yang ngelantur di dalam teks tersebut!

Berdasarkan analogi tongkrongan di atas, jika teman-temanmu sedang ngobrol asyik tentang sepatu basket, kalimat mana yang merupakan contoh 'kalimat tidak logis' dalam konteks obrolan tersebut?

  • A. 'Gimana ya, sepatu ini tuh keren, tapi warnanya, aduh, gimana ya...'
  • B. 'Kemarin aku beli sepatu basket baru, diskonnya 50% di toko depan.'
  • C. 'Ikan hiu bernapas menggunakan insang, sedangkan paus menggunakan paru-paru.'
  • D. 'Sepatu ini bagus karena desainnya keren dan desainnya sangat bagus dipandang.'

Jawaban: C. 'Ikan hiu bernapas menggunakan insang, sedangkan paus menggunakan paru-paru.'

Opsi C adalah fakta yang benar secara mandiri, tapi jika obrolannya tentang 'sepatu', kalimat ini jadi jumping idea (tidak logis dalam konteks wacana). Opsi A ambigu/bingung, D tidak efektif (pemborosan kata).

Kalimat tidak logis dalam bacaan adalah kalimat yang 'jumping idea' atau keluar dari topik utama (tidak koheren secara makro).

Normal di Mata, Aneh di Konteks

Kalau kamu tadi menjawab Kalimat (9) dan gagal melihat anehnya Kalimat (6), itu sangat wajar.

Ini karena mata kita sudah terbiasa menilai kebenaran kalimat secara mandiri (berdiri sendiri). Coba perhatikan lagi Kalimat (6): "Kecambah kacang tanah juga berperan dalam memperbaiki fungsi kognitif, terutama pada individu dengan pola makan tinggi lemak."

Tapi ingat, teks bacaan di soal SNBT bukanlah kumpulan kalimat acak yang berdiri sendiri. Teks adalah satu kesatuan ide pokok. Di dalam dunia linguistik (ilmu bahasa), ada yang namanya Koherensi Makro: kepaduan topik dari kalimat pertama sampai titik terakhir di kalimat penutup.

Sebuah kalimat bisa memiliki tata bahasa dan Subjek-Predikat-Objek-Keterangan (SPOK) yang 100% sempurna, tetapi menjadi tidak logis karena dia gagal memenuhi standar Koherensi Makro paragraf tersebut. Ia gagal membaur dengan kalimat sebelum dan sesudahnya.

Mengapa kita sering terkecoh dan menganggap kalimat 'jumping idea' (seperti Kalimat 6 tadi) itu sebagai kalimat yang normal dan tidak bermasalah?

  • A. Karena kalimat tersebut biasanya ditulis dengan ejaan yang salah.
  • B. Karena secara tata bahasa dan kalimatnya berdiri sendiri (logika internal), ia seringkali sudah sempurna.
  • C. Karena kalimat tersebut biasanya diletakkan di akhir paragraf.
  • D. Karena kalimat tersebut menggunakan kata hubung (konjungsi) yang berlebihan.

Jawaban: B. Karena secara tata bahasa dan kalimatnya berdiri sendiri (logika internal), ia seringkali sudah sempurna.

Kita terkecoh karena logika mikro (struktur SPOK) kalimat itu benar dan terdengar masuk akal. Kita lupa mengecek logika makronya (apakah kalimat itu nyambung dengan kalimat-kalimat lain di sekitarnya).

Kalimat tidak logis sering memiliki struktur tata bahasa yang sempurna (logika mikro benar), namun gagal menyambung dengan topik wacana (logika makro rusak).

Melacak 'Si Pelompat Topik'

Mari kita bedah alur "obrolan" di dalam teks tentang kecambah kacang tanah tadi untuk melacak di mana letak jumping idea-nya.

Langkah pertama adalah melihat kelompok ide di dalam wacana:

Lalu, di tengah-tengah keasyikan itu... muncul Kalimat (6) yang tiba-tiba melompat drastis membahas "memperbaiki fungsi kognitif" (otak) murni.

Kalimat (6) tidak punya bridging (jembatan) sama sekali. Penulis tidak menjelaskan kaitan antara metabolisme lemak di Kalimat (5) dengan fungsi otak di Kalimat (6). Ia melompat begitu saja. Inilah yang membuatnya menjadi kalimat yang tidak logis secara kontekstual di wacana ini.

Jika kamu jeli, Kalimat (7) di bacaan juga menyinggung tentang 'memori'. Mengapa Kalimat (7) TIDAK dianggap sebagai 'jumping idea' yang tidak logis seperti Kalimat (6)?

  • A. Karena Kalimat (7) terletak setelah Kalimat (6).
  • B. Karena Kalimat (7) menghubungkan masalah memori dengan penyebab 'akibat obesitas atau diabetes' yang mana nyambung dengan topik penyakit fisik di kalimat 5.
  • C. Karena Kalimat (7) diangkat dari penelitian pada hewan yang dianggap valid di wacana sains.
  • D. Karena fungsi kognitif/memori selalu berkaitan langsung dengan fungsi pencernaan.

Jawaban: B. Karena Kalimat (7) menghubungkan masalah memori dengan penyebab 'akibat obesitas atau diabetes' yang mana nyambung dengan topik penyakit fisik di kalimat 5.

Kalimat (7) punya 'jembatan makna' ke topik utama fisik lewat frasa 'akibat obesitas atau diabetes' (obesitas/penyakit metabolik udah dibahas di kalimat 5). Sedangkan Kalimat (6) tiba-tiba bahas kognitif murni tanpa kaitan ke metabolisme fisik.

Kalimat tidak akan menjadi 'jumping idea' jika memiliki jembatan makna (transisi ide) yang mengikatnya dengan topik dominan wacana sebelumnya.