Komodifikasi Budaya: Saat Tradisi Menjadi Etalase

Mulai dari Kata 'Komoditas'

Sebelum kita melompat ke istilah sosiologi yang kedengarannya rumit, mari kita mulai dari satu kata dasar: komoditas. Kalau kamu belum terlalu familier dengan istilah ini, gampangnya komoditas adalah barang dagangan.

Dalam ekonomi dan sosiologi, segala sesuatu yang diproduksi dengan tujuan utama untuk diperjualbelikan demi meraup keuntungan finansial di pasar disebut sebagai komoditas.

ilustrasi

Biar lebih kebayang, kita pakai contoh dari dunia musik. Bayangkan sebuah lagu daerah yang dinyanyikan warga desa dalam upacara panen yang sakral. Di titik ini, lagu tersebut bukan komoditas—ia punya nilai sosial, ritual, dan perekat komunitas.

Namun, ketika produser musik datang, me-remix lagu itu, merekamnya di studio mewah, lalu menjualnya di Spotify atau menjadikannya konten konser berbayar, lagu daerah itu telah berubah status menjadi komoditas. Tujuannya bergeser dari sekadar ritual menjadi meraup cuan.

Berdasarkan analogi musik di atas, manakah dari situasi berikut yang BUKAN merupakan contoh dari sebuah komoditas?

  • A. Lagu pop yang diunggah ke Spotify untuk mendapatkan royalti.
  • B. Pertunjukan teater berbayar di sebuah gedung kesenian.
  • C. Tarian sakral yang dilakukan secara tertutup oleh tetua adat hanya untuk upacara panen.
  • D. Kain tenun yang dipasarkan di platform e-commerce.

Jawaban: C. Tarian sakral yang dilakukan secara tertutup oleh tetua adat hanya untuk upacara panen.

Tarian sakral yang dilakukan untuk upacara adat tidak ditujukan untuk dijual atau mencari keuntungan finansial, sehingga dalam konteks ini ia bukanlah sebuah komoditas.

Komoditas adalah sesuatu yang diproduksi dengan tujuan utama untuk diperjualbelikan demi meraup keuntungan finansial di pasar.

Komodifikasi: Proses 'Menjual' Tradisi

Kalau komoditas adalah barang dagangannya, maka komodifikasi adalah proses-nya (imbuhan "-fikasi" berarti proses). Jadi, komodifikasi budaya adalah proses menjadikan aspek-aspek budaya sebagai barang dagangan untuk pasar massal.

Seorang perempuan menenun keranjang tradisional secara manual Gambar: Frieda1989, CC BY-SA 4.0 — Wikimedia Commons

Pabrik tekstil massal dengan mesin besar Gambar: Unknown author, Public domain — Wikimedia Commons

Masalahnya, komodifikasi budaya ini sering kali bukan sekadar aktivitas jual-beli biasa, tapi proses di mana makna, nilai, dan cara pembuatan budaya tersebut diubah demi memenuhi selera pasar.

Mari kita pakai analogi dari dunia fashion. Misalnya, kain tenun asli sebuah daerah awalnya ditenun tangan berbulan-bulan dan punya makna filosofis yang mendalam. Ketika dunia luar mulai tertarik dan permintaan sangat tinggi, para pengrajin dipaksa membuat baju bermotif tenun tersebut yang dicetak massal pakai mesin pabrik agar ukurannya seragam dan bisa diekspor dengan cepat.

Proses pembuatan tradisional dan makna filosofisnya hilang, diganti dengan efisiensi keuntungan. Ini memunculkan dilema: secara ekonomi mungkin masyarakat adat untung, tapi secara sosiologis, identitas dan nilai budaya asli mereka luntur menjadi sekadar objek konsumsi.

Tentukan apakah pernyataan berikut Benar atau Salah terkait tantangan dalam proses komodifikasi budaya!

  • Komodifikasi budaya akan selalu mempertahankan 100% makna filosofis dan proses pembuatan tradisional dari produk yang dijual. — Salah
  • Tingginya permintaan ekspor bisa memicu pergeseran nilai pembuatan kerajinan budaya menjadi sekadar mengejar efisiensi produksi. — Benar

Komodifikasi budaya justru sering kali mengubah atau menyederhanakan makna dan proses tradisional agar sesuai dengan efisiensi industri dan selera pasar yang luas.

Proses komodifikasi budaya berisiko melunturkan nilai dan proses tradisional asli demi memenuhi standar dan efisiensi pasar massal.

Glokalisasi vs Komodifikasi

Kamu mungkin merasa soal sebelumnya berkaitan dengan bertemunya platform global dan budaya lokal, sehingga terkecoh memilih opsi Glocalization (Glokalisasi). Memang mirip ada unsur lokal dan global, tapi arah panahnya berbeda total!

Glokalisasi (Global + Lokal) terjadi ketika aktor/produk global beradaptasi menyesuaikan selera lokal. Contoh: McDonald's bikin menu Burger Rendang di Indonesia, atau artis K-Pop menyapa fans pakai bahasa gaul "Apa kabar, bestie?". Di sini, yang berubah adalah si pemain globalnya biar diterima orang lokal.

Sebaliknya, Komodifikasi Budaya (dalam konteks soal ini) adalah ketika nilai dan budaya lokal yang dipaksa berubah bentuk atau formatnya demi dijual ke pasar global atau massal.

Di kasus soal masyarakat adat tadi, bukan e-commerce-nya (global) yang beradaptasi dengan tradisi adat, melainkan masyarakat adat-nya (lokal) yang dituntut mengubah cara produksi kerajinan mereka demi standar kualitas ekspor pasar global tersebut. E-commerce di sini hanyalah alat atau fasilitator, bukan fenomena utamanya.

Sebuah perusahaan kopi raksasa dari Amerika membuka cabang di Indonesia dan menciptakan menu khusus 'Frappuccino Rasa Klepon' untuk menarik pembeli setempat. Termasuk fenomena apakah ini?

  • A. Komodifikasi Budaya
  • B. Glokalisasi
  • C. Imperialisme Budaya
  • D. Homogenisasi Budaya

Jawaban: B. Glokalisasi

Ini adalah Glokalisasi, karena entitas global (perusahaan kopi Amerika) yang berinisiatif beradaptasi dengan menciptakan produk yang menyesuaikan selera lokal (klepon).

Glokalisasi adalah fenomena di mana entitas global beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan selera budaya lokal.