Klasifikasi Jamur: Berawal dari Spora

Dasar Utama Pengelompokan Jamur

Para ahli biologi membagi Kingdom Fungi menjadi beberapa filum terutama berdasarkan struktur unik tempat mereka menghasilkan spora seksual.

Spora seksual jamur Morchella elata yang tersusun di dalam kantung di bawah mikroskop perbesaran 40x Gambar: Peter G. Werner, CC BY 3.0 — Wikimedia Commons

Dunia jamur sangat luas dan beraneka ragam. Di satu sisi, ada ragi (yeast) yang hanya terdiri dari 1 sel mikroskopis. Di sisi lain, ada jamur kayu atau jamur payung raksasa yang tubuh buahnya bisa kita pegang langsung di lantai hutan. Namun, ukuran tubuh buah bukanlah dasar klasifikasi utama para ilmuwan dalam membedakan filum jamur.

Meskipun ragi tidak memiliki payung maupun tangkai seperti jamur konsumsi, para mikolog dapat mengklasifikasikannya secara presisi dengan memeriksa struktur mikroskopis tempat pembentukan sporanya.

Ascomycota: Jamur Kantung

Filum Ascomycota memiliki ciri khas berupa produksi spora di dalam kantung mikroskopis bernama askus, mencakup ragi fermentasi dan sebagian besar jamur pembentuk lumut kerak.

Diagram struktur askus berbentuk kantung yang membungkus delapan askospora di dalamnya.

Ascomycota merupakan filum terbesar dalam dunia fungi. Struktur diagnostik utamanya adalah askus, yaitu kantung tempat terbentuknya askospora secara seksual (biasanya berjumlah 8 spora dalam tiap askus). Ragi pembuat roti dan alkohol (Saccharomyces cerevisiae) adalah contoh anggota Ascomycota bersel tunggal. Mengembangnya adonan roti yang kita santap setiap hari merupakan bukti nyata aktivitas fermentasi jamur berkantung ini.

Selain dalam industri pangan, Ascomycota memegang peran ekologis raksasa. Lebih dari 98% jamur yang bersimbiosis mutualisme dengan alga hijau atau cyanobacteria membentuk lumut kerak (lichen) berasal dari filum ini.

Ditemukan sebuah spesimen Fungi di kulit kayu yang bersimbiosis mutualisme dengan alga hijau. Pengamatan mikroskopis pada bagian reproduksinya menunjukkan spora tersusun rapi di dalam struktur tubular memanjang mirip kantung tertutup. Berdasarkan struktur reproduksi tersebut, spesimen ini paling tepat dimasukkan ke filum ....

  • Basidiomycota, karena spora diproduksi di atas struktur berbentuk gada.
  • Ascomycota, karena spora terbentuk di dalam kantung mikroskopis (askus).
  • Zygomycota, karena struktur hifanya menjalar membentuk koloni berserabut.
  • Glomeromycota, karena menunjukkan interaksi simbiosis mutualisme erat.

Jawaban: Ascomycota, karena spora terbentuk di dalam kantung mikroskopis (askus).

Ascomycota membentuk spora seksualnya (askospora) di dalam struktur mirip kantung tertutup yang disebut askus. Jamur dalam simbiosis lumut kerak bersama alga juga didominasi secara mutlak oleh filum Ascomycota. Basidiomycota menghasilkan spora di luar struktur tongkat (basidium), Zygomycota menghasilkan zigospora, sedangkan Glomeromycota bersimbiosis dengan akar tanaman (mikoriza), bukan alga.

Ciri khas pembeda Ascomycota dari filum jamur lain berdasarkan wadah spora kantung (askus).

Basidiomycota: Jamur Payung Familiar

Jamur berdaging yang sering kita temukan di alam maupun di meja makan masuk ke filum Basidiomycota karena spora seksualnya diproduksi pada struktur berbentuk tongkat atau gada bernama basidium.

Perbandingan visual antara Basidium berbentuk tongkat dengan 4 spora di luar versus Askus berbentuk kantung dengan 8 spora di dalam.

Sebagian besar jamur makroskopis yang kita kenal—seperti jamur tiram, jamur merang, jamur kuping, hingga jamur kancing—adalah anggota filum Basidiomycota. Berbeda dari Ascomycota yang mengurung sporanya di dalam kantung tertutup, Basidiomycota menempatkan sporanya di bagian luar ujung sel khusus berbentuk gada. Struktur gada ini disebut basidium, yang biasanya menopang 4 basidiospora di permukaannya.