Teorema Cobweb: Kenapa Harga Fluktuatif?
Akar Masalah: Jeda Waktu Petani
Pernah kepikiran nggak, kenapa harga komoditas pertanian kayak cabe merah bisa tiba-tiba meroket tinggi banget, tapi beberapa bulan kemudian harganya jatuh gila-gilaan? Jawabannya ada pada jeda waktu (time lag).

Petani mengambil keputusan buat menanam hari ini berdasarkan harga yang berlaku saat ini atau kemarin (periode $t-1$). Masalahnya, cabe hasil panenan mereka baru akan dijual ke pasar beberapa bulan ke depan (periode $t$).
Pas harga cabe lagi mahal-mahalnya, semua petani ikutan semangat menanam cabe yang banyak karena berekspektasi harganya bakal tetap tinggi. Begitu masa panen tiba, pasar tiba-tiba kebanjiran cabe dari mana-mana. Karena persediaan mendadak melimpah ruah, harganya pun otomatis anjlok.
Setup Aturan Main: Siapa Lebih Reaktif?
Dalam kasus fluktuasi harga cabe ini, kita punya dua pemain utama di pasar dengan sifat yang bertolak belakang: pembeli dan petani.
Sesuai soal, pembeli cabe sifatnya sangat inelastis. Artinya, mereka itu kaku banget alias nyaris pasrah. Karena cabe adalah bumbu masak yang selalu dibutuhkan, mau harganya naik atau turun, jumlah cabe yang mereka beli nyaris nggak berubah.
Sebaliknya, petani (sisi penawaran) di soal ini bersifat sangat elastis terhadap harga. Artinya, mereka super reaktif! Beda harga sedikit aja di masa lalu, mereka bisa langsung bereaksi dengan menanam cabe berlipat ganda atau malah mogok menanam sama sekali.
Jika permintaan cabe bersifat sangat inelastis, apa yang akan terjadi dari sisi pembeli jika harga cabe tiba-tiba melonjak naik drastis?
- A. Pembeli akan berhenti membeli cabe sama sekali.
- B. Pembeli hanya akan sedikit mengurangi jumlah cabe yang dibeli.
- C. Pembeli akan beralih memproduksi cabe sendiri.
- D. Petani akan langsung menurunkan harga cabe saat itu juga.
Jawaban: B. Pembeli hanya akan sedikit mengurangi jumlah cabe yang dibeli.
Sifat sangat inelastis berarti barang tersebut adalah kebutuhan yang sulit diganti. Jadi, berapapun harganya, pembeli cenderung tetap membeli dalam jumlah yang hampir sama.
Permintaan inelastis berarti pembeli tidak peka terhadap perubahan harga; kuantitas yang diminta nyaris tidak berubah meskipun harga melonjak.
Simulasi Tabel: Terjadinya Efek Bola Salju
Kalau petani yang super reaktif tadi bertemu dengan pembeli yang kaku, apa yang bakal terjadi di pasar? Jawabannya adalah efek bola salju yang makin lama makin parah.
Coba perhatikan simulasi tabel di bawah ini. Bayangkan harga awal normalnya ada di Rp30.000, lalu tiba-tiba ada sedikit kelangkaan yang memicu kenaikan harga di periode $t-1$.
Perhatikan pergerakan harganya. Dari awalnya naik ke Rp40.000, lalu karena oversupply harganya dibanting jadi Rp10.000, yang membuat petani kapok menanam. Bulan berikutnya, terjadi kelangkaan ekstrem sehingga harganya terbang menembus Rp60.000!
Lonjakan harganya bukannya mereda, tapi justru semakin melebar dan liar menjauhi keseimbangan awalnya. Fluktuasi yang makin membesar tak terkendali dari periode ke periode inilah yang dalam Cobweb Theorem disebut sebagai kondisi divergen.
Berdasarkan simulasi tabel sebelumnya, tentukan apakah pernyataan berikut Sesuai atau Tidak Sesuai dengan karakteristik pola harga divergen!
- Fluktuasi harga akan semakin mengecil dan lama-lama stabil di satu titik keseimbangan. — Tidak Sesuai
- Reaksi petani yang berlebihan pada satu periode akan memperparah ketidakstabilan harga di periode berikutnya. — Sesuai
Divergen berarti menyebar atau menjauh. Harga tidak makin stabil, melainkan lonjakannya makin ekstrem akibat reaksi petani yang sangat elastis bertemu pembeli yang inelastis.
Pada kondisi divergen, fluktuasi harga akan semakin membesar karena reaksi penawaran yang over-reaktif tidak mampu diredam oleh permintaan yang kaku.