Tindakan Sosial: Checklist ala Weber

Sosiologi = Ilmu Tentang 'Kita'

Sosiologi itu pada dasarnya adalah ilmunya manusia yang hidup bareng-bareng. Karena ruang lingkupnya manusia, kamu mungkin mikir: "Berarti semua hal yang dilakuin manusia itu penting dong buat kacamata sosiologi?"

Ternyata nggak. Kalau kamu lagi tidur terus ngorok, atau kamu tiba-tiba jatuh pingsan, itu emang kelakuan manusia. Tapi, sosiologi nggak peduli sama hal-hal kayak gitu. Harus ada filter atau penyaring buat nentuin mana tindakan manusia yang masuk radar sosiologi, dan mana yang sekadar perilaku biologis biasa.

Di sinilah peran sosiolog asal Jerman bernama Max Weber. Menurutnya, sosiologi itu punya satu tugas utama: memahami apa yang dia sebut sebagai Tindakan Sosial (social action).

Menurut Weber, suatu tindakan manusia nggak otomatis jadi tindakan sosial. Tindakan tersebut baru bisa naik kasta jadi 'Tindakan Sosial' kalau lolos melewati 2 pos pemeriksaan (checklist) yang ketat.

Biar gampang, kita anggap filter ini sebagai alur flowchart di atas. Saat kamu ngelakuin sesuatu, tanyain dua hal ini secara berurutan:

  1. Pos 1: Ada tujuannya atau niat sadarnya nggak?

  2. Pos 2: Ada hubungannya sama orang lain nggak?

Kalau salah satu aja jawabannya "Nggak", berarti kelakuan itu gagal jadi tindakan sosial. Yuk, kita bedah posnya satu per satu di halaman berikutnya!

Pos 1: Punya Tujuan (Makna Subjektif)?

Pos pemeriksaan pertama dari Weber mensyaratkan tindakanmu harus punya makna subjektif. Bahasa gampangnya: kamu sadar ngelakuinnya, dan kamu tahu kenapa (apa tujuannya) kamu ngelakuin itu.

Kalau suatu gerakan terjadi secara otomatis alias refleks biologis tanpa sempat dipikirin atau direncanain sama otak, gerakan itu langsung gugur di Pos 1. Menurut sosiologi, itu murni urusan biologi atau medis, bukan urusan sosial.

ilustrasi

Jadi, selama kamu ngelakuin sesuatu dengan niat, sadar, dan punya motif (entah itu milih baju, nendang bola, atau bahkan bengong mikirin masa depan), kamu berhasil lolos dari Pos 1.

Tapi ingat, lolos Pos 1 belum tentu bikin tindakan itu jadi Tindakan Sosial. Masih ada Pos 2 yang menanti.

ilustrasi

Berdasarkan kriteria Pos 1 (punya makna subjektif), manakah di bawah ini yang berhasil LOLOS Pos 1?

  • A. Menggigil kedinginan saat AC kelas terlalu dingin
  • B. Memilih memakai jaket tebal karena merasa kedinginan
  • C. Berkeringat setelah berolahraga di lapangan
  • D. Menarik tangan dengan cepat saat tidak sengaja menyentuh panci panas

Jawaban: B. Memilih memakai jaket tebal karena merasa kedinginan

Memakai jaket adalah tindakan sadar yang punya tujuan (agar hangat), sehingga punya 'makna subjektif'. Menggigil, berkeringat, dan menarik tangan dari panas adalah gerak refleks/biologis otomatis.

Tindakan harus memiliki kesadaran dan niat/tujuan (makna subjektif) untuk lolos kriteria pertama tindakan sosial, bukan sekadar refleks biologis.

Pos 2: Ada 'Orang Lain' Gak?

Nah, ini dia pos yang paling sering bikin orang kejebak. Syarat kedua dari Weber adalah: tindakanmu harus diarahkan pada orang lain (oriented toward others).

Artinya, walau kamu sadar dan punya niat ngelakuin sesuatu (udah lolos Pos 1), kalau tindakan itu nggak ada urusannya sama manusia lain, itu BUKAN tindakan sosial. Tindakanmu harus mempertimbangkan keberadaan, perilaku, atau reaksi orang lain.

ilustrasi

Balik lagi ke contoh buka payung pas hujan.

Bandingkan sama insting logikamu di situasi ini: Kamu sengaja merapikan baju dan rambut pas gebetan lewat di depan kelas.

Manakah dari situasi berikut yang LOLOS Pos 2 (diarahkan pada orang lain)?

  • A. Seorang pendaki gunung menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri
  • B. Seseorang menyapu kamarnya sendirian agar terasa nyaman
  • C. Seorang petani berteduh di bawah pohon saat matahari sangat terik
  • D. Seorang pengendara motor membunyikan klakson agar orang di depannya minggir

Jawaban: D. Seorang pengendara motor membunyikan klakson agar orang di depannya minggir

Membunyikan klakson ditujukan agar orang lain memberikan jalan (mempertimbangkan/merespons orang lain), sedangkan yang lainnya hanya merespons alam atau untuk kenyamanan diri sendiri tanpa orientasi pada orang lain.

Tindakan sosial harus diarahkan dan mempertimbangkan keberadaan atau reaksi manusia lain, bukan sekadar merespons benda mati atau alam.