Sensitivitas Harga: Paham Elastisitas Busur dari Nol

Apa itu Elastisitas?

Bayangkan kamu lagi di kedai es kopi favoritmu. Tiba-tiba, harga es kopi yang biasa kamu beli naik dari Rp15.000 jadi Rp20.000. Reaksimu? Kemungkinan besar kamu bakal protes, ngurangin jajan, atau pindah ke merek kopi lain yang lebih murah. Pembeli berhamburan kabur. Ini namanya kamu sensitif terhadap harga.

Menu harga kopi Gambar: Infrogmation of New Orleans, CC BY 2.0 — Wikimedia Commons

Sekarang, bandingkan kalau harga kuota internet atau beras di rumah naik dengan jumlah yang sama. Kamu mungkin ngedumel, tapi ujung-ujungnya tetap beli kan? Soalnya itu kebutuhan pokok. Kamu kebal atau kurang sensitif terhadap harganya.

Dalam ilmu ekonomi, seberapa "kaget" atau sensitifnya pembeli saat harga suatu barang berubah inilah yang diukur dengan angka, dan kita menyebutnya sebagai Elastisitas Permintaan.

Nah, coba mainkan slider di atas untuk melihat gimana respons pembeli terhadap es kopi vs beras!

ilustrasi

Dari cerita es kopi dan beras tadi, apa inti dari konsep Elastisitas Permintaan?

  • A. Seberapa sering pembeli datang ke toko saat ada diskon.
  • B. Selisih antara harga awal dan harga akhir suatu barang.
  • C. Tingkat sensitivitas jumlah pembeli ketika harga suatu barang berubah.
  • D. Kemampuan pembeli menawar harga barang menjadi lebih murah.

Jawaban: C. Tingkat sensitivitas jumlah pembeli ketika harga suatu barang berubah.

Elastisitas pada dasarnya adalah alat ukur seberapa responsif atau sensitifnya pembeli (jumlah permintaan) saat harganya dinaikkan atau diturunkan.

Elastisitas mengukur tingkat sensitivitas (perubahan jumlah permintaan) akibat adanya perubahan harga.

Dilema Menghitung Persentase

Untuk ngukur elastisitas, ekonom biasanya membandingkan persentase perubahan jumlah pembeli dengan persentase perubahan harga. Kedengarannya gampang ya? Tapi tunggu dulu, ada satu masalah ngeselin pas kita ngitung persentase.

Misal nih, harga es kopi naik dari Rp8.000 ke Rp12.000 (naik Rp4.000). Kalau kita jadikan harga awal (Rp8.000) sebagai patokan persentase, persentase kenaikannya adalah $4.000 / 8.000 = 50$.

Tapi coba kejadiannya dibalik! Harga es kopi lagi promo, turun dari Rp12.000 ke Rp8.000 (turun Rp4.000). Kalau patokan kita adalah harga awalnya (Rp12.000), maka persentase penurunannya cuma $4.000 / 12.000 = 33$.

Loh, jarak harganya sama-sama Rp4.000, tapi nilai persentasenya kok beda tergantung kita berangkat dari mana (naik vs turun)? Kalau kita pakai rumus elastisitas biasa (titik awal), hasil elastisitasnya bakal beda antara pas harga naik dan pas harga turun!

Ini bikin bingung. Masak barang yang sama, jarak harga yang sama, sensitivitasnya dibilang beda cuma gara-gara arah hitungnya?

Berdasarkan dilema di atas, tentukan apakah pernyataan berikut bernilai Sama atau Beda!

  • Harga naik dari Rp10.000 ke Rp12.000, dengan harga turun dari Rp12.000 ke Rp10.000. Persentase perubahannya akan... — Beda
  • Jarak harganya secara Rupiah adalah... — Sama

Persentase jadi BEDA karena angka pembaginya (titik awalnya) berbeda. Tapi jarak harganya SAMA-SAMA Rp2.000. Ini dia dilemanya!

Ngitung persentase dari titik awal bikin hasilnya beda tergantung arah (naik/turun), padahal rentang angkanya sama.

Solusi Adil: Titik Tengah (Busur)

Biar para ekonom nggak berantem gara-gara milih pakai titik awal yang mana, mereka bikin kesepakatan adil: "Gimana kalau kita jangan pakai titik awal atau akhir, tapi kita pakai titik tengahnya aja?"

Inilah ide di balik Elastisitas Busur (Arc Elasticity).

Alih-alih membagi perubahannya dengan "harga awal", kita membaginya dengan nilai rata-rata antara harga awal dan harga akhir. Begitu juga buat jumlah pembeli, kita pakai rata-rata jumlah pembeli awal dan akhir.

Kalau kita gambar di grafik, garis lurus yang ngehubungin titik awal dan titik akhir itu mirip kayak tali busur panah. Dan kita ngitung persentasenya tepat di tengah-tengah busur itu. Itulah alasan metode ini sering disebut "Metode Nilai Tengah" (Midpoint Method) atau Elastisitas Busur.

Dengan pakai titik tengah, arah pergerakan harga mau naik atau turun nggak ngaruh lagi. Jawabannya bakal selalu konsisten. Metode ini jadi andalan banget kalau kita ketemu soal di mana lonjakan harganya lumayan drastis.

Pilih pernyataan yang BENAR mengenai Elastisitas Busur! (Bisa lebih dari 1)

  • Elastisitas busur menjadikan nilai rata-rata sebagai patokan.
  • Hasil perhitungan elastisitas busur akan berbeda jika dibalik dari akhir ke awal.
  • Metode ini menyelesaikan masalah perbedaan persentase naik/turun.

Jawaban: Elastisitas busur menjadikan nilai rata-rata sebagai patokan.; Metode ini menyelesaikan masalah perbedaan persentase naik/turun.

Pernyataan 1 dan 3 benar. Elastisitas busur pakai titik rata-rata, dan hasilnya bakal sama persis mau dihitung saat harga naik maupun turun. Pernyataan 2 salah karena itu kelemahan elastisitas titik biasa.

Elastisitas busur menggunakan titik rata-rata (midpoint) untuk menghasilkan perhitungan yang konsisten terlepas dari arah perubahan harga.