Kurva Phillips: Menakar Inflasi & Pekerja

Intuisi Kenaikan Harga

Kondisi ekonomi yang membaik sering kali membuat pengangguran berkurang, yang kemudian memicu perusahaan menaikkan upah dan menaikkan harga barang.

Bayangkan sebuah kawasan industri sepatu yang tiba-tiba kebanjiran pesanan dari pasar global. Untuk memenuhi pesanan, pabrik-pabrik di sana berlomba-lomba membuka lowongan pekerjaan hingga hampir merekrut seluruh warga usia kerja di daerah tersebut. Ketika lowongan kerja melimpah di mana-mana, angka pengangguran di wilayah itu tentu menyusut drastis.

Pemilik pabrik menawarkan upah lebih tinggi kepada calon pekerja di tengah ramainya operasional pabrik.

Namun, di sinilah dinamika tarik-tambang tenaga kerja dimulai. Saat calon tenaga kerja menjadi langka, setiap pabrik terpaksa bersaing ketat menawarkan gaji yang semakin tinggi agar pekerja mau datang atau tidak pindah ke pabrik lain.

Kenaikan upah ini membawa dua konsekuensi langsung:

  1. Biaya produksi membengkak: Pengusaha terpaksa menaikkan harga jual sepatu mereka di pasar agar tidak merugi.

  2. Daya beli masyarakat melompat: Warga yang kini berpenghasilan lebih tinggi mulai berbelanja lebih banyak kebutuhan sehari-hari, mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara umum (inflasi).

Mengenal Sumbu Kurva

Kurva Phillips secara grafis memetakan hubungan terbalik antara Tingkat Pengangguran di sumbu horizontal dan Tingkat Inflasi di sumbu vertikal.

Hubungan ini memiliki kemiringan negatif (downward sloping), yang mengilustrasikan sebuah konsep penting dalam ekonomi makro: adanya trade-off (pertukaran) yang harus dihadapi para pembuat kebijakan.

Garis lengkung pada grafik di atas menjelaskan dua kondisi ekstrem:

Karena sumbu horizontalnya adalah pengangguran dan sumbu vertikalnya adalah inflasi, maka Opsi B (Tingkat pengangguran dan inflasi) merupakan jawaban yang tepat.

Sebuah negara sedang mengalami resesi ekonomi yang parah sehingga banyak pabrik yang tutup. Berdasarkan asumsi awal teori Kurva Phillips, apa yang kemungkinan besar terjadi pada negara tersebut?

  • Tingkat pengangguran meningkat, namun tingkat inflasi relatif rendah.
  • Tingkat pengangguran dan tingkat inflasi meningkat tajam secara bersamaan.
  • Tingkat pengangguran rendah dan pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan pesat.
  • Tingkat pengangguran tinggi diikuti oleh kenaikan nilai tukar uang yang signifikan.

Jawaban: Tingkat pengangguran meningkat, namun tingkat inflasi relatif rendah.

Kondisi resesi menyebabkan aktivitas ekonomi melemah dan pabrik tutup, sehingga tingkat pengangguran naik (bergerak ke kanan pada sumbu horizontal Kurva Phillips). Akibatnya, daya beli masyarakat melemah dan upah stagnan, sehingga tingkat inflasi cenderung rendah. Pengecoh B adalah fenomena stagflasi yang mematahkan kurva tunggal, C adalah kebalikan dari kondisi resesi, dan D melibatkan variabel nilai tukar yang bukan bagian dari sumbu Kurva Phillips.

Trade-off antara inflasi dan pengangguran pada satu kurva tunggal.

Ketika Teori Ini Runtuh

Kurva Phillips sempat dianggap tidak berlaku ketika krisis stagflasi tahun 1970-an menunjukkan bahwa inflasi dan pengangguran bisa naik bersamaan.

Pada dekade 1960-an, Kurva Phillips sangat diagung-agungkan. Para ekonom dan pemerintah saat itu menganggap kurva ini layaknya sebuah "daftar menu" kebijakan: jika ingin menurunkan pengangguran hingga angka terendah, pemerintah cukup menyuntikkan stimulus dan rela menanggung sedikit inflasi tambahan.

Diagram pergeseran Kurva Phillips ke arah kanan atas akibat stagflasi atau guncangan penawaran.

Namun, keyakinan tersebut terguncang hebat pada era 1970-an akibat krisis minyak dunia. Lonjakan drastis harga minyak mentah memberikan guncangan biaya produksi (supply shock) yang melumpuhkan industri global. Biaya bahan bakar dan transportasi naik drastis seketika, terlepas dari apakah daya beli masyarakat sedang kuat atau lemah.

Akibat guncangan biaya tersebut, dua pukulan telak terjadi secara serentak:

  1. Perusahaan terpaksa menaikkan harga jual barang untuk menutup ongkos energi yang membengkak (inflasi meroket).

  2. Di saat yang sama, karena beban operasional terlalu berat dan omzet menurun, perusahaan merumahkan banyak karyawan (pengangguran melonjak).

Kondisi anomali ini dikenal sebagai stagflasi (stagnasi ekonomi berbarengan dengan inflasi tinggi). Peristiwa ini membuktikan bahwa Kurva Phillips tidaklah diam di tempat. Ketika terjadi guncangan pada rantai pasokan, kurva tersebut bergeser secara menyeluruh ke kanan atas.

Pada periode tertentu, sebuah negara mengalami lonjakan harga bahan bakar ekstrem yang memicu stagflasi. Tentukan kebenaran dari dampak kondisi tersebut berdasarkan teori kurva inflasi-pengangguran:

  • Kurva Phillips tidak mengalami pergeseran, titiknya hanya bergerak ke pojok kanan bawah. — Salah
  • Tingkat inflasi akan berada pada posisi tinggi bersamaan dengan tingginya tingkat pengangguran. — Benar

Pernyataan 1 Salah karena stagflasi akibat guncangan pasokan memicu seluruh kurva bergeser ke kanan atas, bukan sekadar bergerak di sepanjang garis lama. Pernyataan 2 Benar karena esensi utama stagflasi adalah bertemunya inflasi tinggi dengan pengangguran tinggi secara bersamaan, fenomena yang meruntuhkan asumsi trade-off stabil Kurva Phillips jangka pendek.

Kondisi stagflasi sebagai anomali dari trade-off tradisional Kurva Phillips.