Perilaku Konsumen: Mimpi vs Realita

Skor vs Tier List: Kardinal & Ordinal

ilustrasi

Bayangin kamu lagi main game RPG. Di game itu, karaktermu punya HP (Health Point). Kalau kamu minum potion, HP nambah persis 50 poin. Angkanya mutlak, bisa dihitung, dan bisa ditambahin secara matematis.

Nah, cara pikir kayak gini di ekonomi disebut Pendekatan Kardinal. Menurut pendekatan ini, kepuasan (utilitas) dari ngonsumsi barang itu seolah-olah bisa diukur dengan angka pasti pakai satuan ukur bernama util.

Tapi di sisi lain, bayangin kamu lagi ngecek Tier List senjata di game. Kamu tahu banget senjata Tier S lebih bagus daripada Tier A, dan Tier A lebih superior dari Tier B. Tapi pertanyaannya, seberapa jauh lebih bagusnya? Apa Tier S nilainya persis dua kali lipat Tier B? Kita nggak tahu, dan nggak perlu tahu. Yang penting urutannya jelas.

Konsep ini jadi pondasi Pendekatan Ordinal: kepuasan itu cuma bisa di-ranking atau diurutkan, nggak bisa diukur pakai angka eksak.

Makanya, di soal tadi Opsi A itu tepat banget! Kardinal memandang kepuasan bisa diukur dengan satuan tertentu, sementara Ordinal cuma sekadar membandingkan tingkat kepuasan (mana yang lebih disuka) tanpa peduli selisih angkanya.

Apa perbedaan utama antara pendekatan Kardinal dan Ordinal dalam mengukur utilitas/kepuasan konsumen?

  • A. Kardinal menggunakan urutan preferensi, Ordinal menggunakan angka mutlak.
  • B. Kardinal membandingkan tingkat kepuasan, Ordinal mengukur dengan satuan pasti.
  • C. Kardinal mengukur kepuasan dengan angka eksak, Ordinal hanya mengurutkan tingkat preferensi.
  • D. Kardinal berfokus pada anggaran, Ordinal berfokus pada selera.

Jawaban: C. Kardinal mengukur kepuasan dengan angka eksak, Ordinal hanya mengurutkan tingkat preferensi.

Kardinal mengukur kepuasan secara kuantitatif (seperti HP di game), sedangkan Ordinal meranking preferensi (seperti Tier List) tanpa nilai eksak.

Pendekatan Kardinal mengukur kepuasan dengan angka eksak, sedangkan Ordinal sekadar mengurutkan tingkat preferensi.

Kenapa Ekonom Pindah Haluan?

ilustrasi

Dulu banget, ekonom generasi awal ngerasa kalau rasa kepuasan itu memang bisa dihitung angkanya (Kardinal). Tapi seiring berjalannya waktu, muncul pertanyaan kritis di kalangan ilmuwan ekonomi: "Gimana ceritanya kita bisa ngukur rasa senang?"

Coba deh kamu bayangin kamu lagi makan es krim cokelat kesukaanmu. Kalau kamu bilang es krim itu ngasih kamu "10 utils" kepuasan, apa 10 utils-mu rasanya bakal sama persis dengan 10 utils versi temanmu? Tentu nggak kan?

Perasaan senang itu sangat subjektif dan kita nggak punya alat ukur fisiknya (kayak penggaris, timbangan, atau termometer) buat mengukur seberapa bahagia seseorang.

Karena celah kelemahan ini, ekonom seperti Vilfredo Pareto dan John Hicks mulai putar otak: "Sebenarnya, kita nggak butuh angka pastinya kok buat menganalisis keputusan belanja konsumen!"

Revolusi Ordinal membuktikan kalau memetakan preferensi (sekadar milih "gue lebih milih A dibanding B") jauh lebih realistis untuk menjelaskan cara kerja konsumen di dunia nyata tanpa harus menebak angka-angka fiktif.

Tentukan benar atau salah terkait alasan historis ekonom beralih ke pendekatan Ordinal!

  • Kepuasan seseorang dapat diukur secara akurat dan objektif dengan alat ukur fisik. — Salah
  • Pendekatan Ordinal diusulkan karena ekonom sadar bahwa kita hanya perlu tahu preferensi konsumen tanpa mengukurnya dengan angka pasti. — Benar

Kepuasan bersifat subjektif dan tidak ada penggaris untuk mengukurnya. Inilah alasan ekonom menggeser analisis ke pendekatan Ordinal yang lebih realistis.

Pendekatan Ordinal muncul karena utilitas bersifat subjektif dan tidak ada alat pengukur fisik yang objektif.

Mengekstrak 'Mimpi': Kurva Indiferensi

Dari pemikiran Ordinal, lahirlah sebuah alat grafis andalan bernama Kurva Indiferensi (Indifference Curve). Kurva ini murni memetakan 'mimpi' atau selera konsumen, tanpa pusing mikirin harganya sanggup dibeli atau nggak.

Kurva indiferensi adalah garis melengkung yang menghubungkan berbagai kombinasi dua barang yang ngasih kamu tingkat kepuasan yang SAMA persis.

Misalnya, buat seleramu, kombinasi (2 Boba, 1 Kopi) ngasih rasa puas yang nilainya sama dengan kombinasi (1 Boba, 3 Kopi). Karena rasanya sama-sama bikin happy, kamu jadi indifferent (cuek, terserah dikasih kombinasi yang mana aja).

Ingat ya, kurva ini murni mencerminkan preferensi di kepalamu (wilayah Ordinal).

Apa informasi utama yang digambarkan oleh satu garis Kurva Indiferensi?

  • A. Kombinasi barang yang bisa dibeli dengan sisa uang di dompet
  • B. Kombinasi barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama persis
  • C. Kombinasi barang yang harganya termurah di pasaran
  • D. Kombinasi barang yang memakan anggaran paling sedikit

Jawaban: B. Kombinasi barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama persis

Sesuai namanya (indifferent/cuek), konsumen merasa sama puasnya (utilitas stabil) memilih kombinasi di titik mana pun sepanjang satu kurva tersebut.

Kurva Indiferensi menghubungkan titik-titik kombinasi barang yang memberikan utilitas (kepuasan) setara.